Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Tribunners / Citizen Journalism

Kiai Junaedi, Kiai Rock n Roll dari Rengasdengklok

KH Junaedi Al-Baghdad, kiai nyentrik asal Rengasdengklok

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Memuat video…

Ditulis Dicky Fadiar Djuhud

"HIDUP jemaah manakib!" seru KH Junaedi Al-Baghdadi, sang kiai, dari atas panggung beberapa saat sebelum memulai tausiah dan memimpin zikir manakib Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani RA.

Tak berapa lama ribuan orang yang memadati halaman Pondok Pesantren (Ponpes) Al Baghdadi yang dipimpin kiai muda nan nyentrik yang berada di Dusun Kelor, Desa Amansari, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, itu pun bergema dengan suara tepukan tangan dari jemaah. Terdengar seperti tepuk pramuka tapi agak berbeda, lalu diakhiri mengangkat kedua kepalan tangan dengan kedua jempol diangkat tinggi-tinggi sambil serentak berseru, "Luar biasa, luar biasa!"

"Hidup Bang Deddy Dores!" ujar sang kiai tiba-tiba saja lewat pengeras suara. Lagi-lagi serempak jemaah bertepuk tangan berirama yang diakhiri dengan teriakan, "Luar biasa, luar biasa!"

Sabtu malam pekan lalu, musisi yang banyak mengorbitkan sejumlah penyanyi di tanah air, Deddy Dores, memang hadir di antara jemaah manakib dan didaulat duduk di panggung tak jauh dari tempat duduk sang kiai bersama para tetamu lainnya.

Tampak juga Wali Kota Tegal Ikmal Jaya, Ketua Umum Satria Hanura Abdul Azis, pengamat sosial Prof Kusna, komedian Memet yang belakangan aktif menjadi penceramah, dan sejumlah ustaz, kiai, serta tamu-tamu istimewa lainnya dari berbagai wilayah yang sengaja datang mengikuti majelis zikir manakib.

Kesan rock n roll pertama yang ada pada diri Abah, sapaan KH Junaedi Al-Baghdadi, sebelum mengikuti majelis zikir manakib, diawali saat tiba di ponpes miliknya pekan lalu.

Rekomendasi Untuk Anda

Abah saat itu mengenakan topi laken cokelat seperti koboi, kaus warna cokelat lengan pendek dilapis jaket tanpa lengan yang bersaku banyak, dipadu celana jins cokelat tua. Ia juga memakai sepatu kets cokelat. Tak ada wangi dupa atau minyak wangi Arab atau Timur Tengah. Malah terkesan bau keringat orang yang kepanasan biasa saja seperti tetamu yang hari itu berdatangan di tengah teriknya matahari.

"Sudah, sudah. Jangan mendekat, biar saya saja yang mendekat. Kalian diam saja," kata kiai berusia menjelang 40 tahun itu kepada jemaah yang berebut bersalaman dan mencium tangannya.

Ia berjalan sambil tersenyum dan menyalami jemaah satu per satu, mulai pintu pendopo hingga gerbang halaman pondok pesantren yang jaraknya sekitar 100 meter. Sekitar satu jam, acara salam-salaman itu berlangsung.

Di tengah-tengah kekhusyukan zikir, dengan tenang Abah memanggil dan mempersilakan satu per satu tamu yang ada di atas panggung dan duduk bersamanya saat itu. Termasuk Deddy Dores, yang sempat didaulat untuk berbicara kepada jemaahnya saat itu.

Saat menyuruh Deddy Dores dan beberapa tamu yang mengikuti majelis zikirnya untuk  berbicara di depan jemaah, Abah dengan cuek-nya duduk bersila di tengah-tengah para tamu.

Padahal, saat itu dia tengah memimpin majelis zikir. Sebelum mempersilakan tamu bicara di depan mikrofon, Abah mengatakan kepada jemaahnya bahwa ulama itu harus mau berbagi dan jangan egois, mau enak atau menang sendiri. Waktu yang tepat untuk berbagi adalah saat tausiah atau sebuah majelis zikir itu berlangsung.

"Saya sering melintas di depan ponpes ini. Lama-lama tertarik. Dan saat ada majelis zikir minggu ini, salah seorang teman saya ngajak. Saya enggak mikir-mikir lagi. Sudah penasaran sejak lama ingin tahu ponpes ini. Ya, sekarang baru pertama ini ikut majelis zikir," kata Deddy Dores.

Salah satu yang menarik dari kiai rock n roll dari Rengasdengklok ini adalah penampilannya yang nyentrik. Malam itu, Abah mengenakan jubah perak menyala dengan corak totol-totol hitam. Ya, tampak seperti macan tutul begitu mengilap, lengkap dengan pembungkus kepalanya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas