Begini Suasana Duka di Rumah Dokter Lety, Tangis Pecah Saat Lihat Jenazah Korban

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA ---- Suasana duka masih menyelimuti kediaman dr Lety Sultry di Jalan Sunan Ampel Nomor 8 RT 11 RW 15, Rawamangun, Jakarta Timur tepat dengan peringatan Hari Pahlawan.

Para pelayat yang merupakan kerabat dan rekan almarhumah terlihat bergantian keluar masuk rumah duka untuk mendoakan dan menyampaikan ucapan belasungkawa atas kepergian dr. Lety.

Sang Ibu, Jusmaniar duduk di atas bangku ruang tengah rumah duka, tempat dimana jasad almarhumah dr. Lety disemayamkan sementara sebelum disalatkan dan dikebumikan.

Beberapa orang saudara kandung, keponakan dan kerabat lainnya juga tampak mengeilingi jenazah dr. Lety.

Isak tangis pun masih menggema di ruangan tersebut.

Para pelayat yang merupakan kerabat dan rekan almarhumah terlihat bergantian keluar masuk rumah duka untuk mendoakan dan menyampaikan ucapan belasungkawa atas kepergian dr. Lety.

Sekitar pukul 11 siang, jenazah digotong keluar rumah untuk selanjutnya dibawa ke Masjid Alhidayah, Perguruan Diponegoro, Sunan Giri, Jakarta Timur.

Arak-arakan jenazah sempat menimbulkan kemacetan di kedua arah Jalan Sunan Giri.

Jenazah almarhumah disalatkan setelah Jumatan.

Tidak hanya keluarga, kerabat dan rekan almarhumah, warga lainnya dan jemaaah solat jumat juga turut serta mensalatkan jenazah dr. Lety.

Jenazah dr Lety digotong keluar rumah untuk selanjutnya dibawa ke Masjid Alhidayah, Perguruan Diponegoro, Sunan Giri, Jakarta Timur. (Warta Kota/Hamdi Putra)

Setelah disalatkan, sekitar pukul satu siang jenazah dibawa ke TPU Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur untuk dikebumikan.

Sebelum mobil ambulans yang membawa jenazah dr. Lety tiba, para kerabat dan pelayat lainnya sudah ramai menunggu di TPU Kemiri, Rawamangun.

Isak Tangis dan rintihan histeris pun kembali pecah menyambut dan mengiringi jenazah almarhumah dr. Lety yang akan dimasukkan ke dalam liang lahat, tempat peristirahatan terakhirnya.

enazah dr Letty digotong keluar rumah untuk selanjutnya dibawa ke Masjid Alhidayah, Perguruan Diponegoro, Sunan Giri, Jakarta Timur. (Warta Kota/Hamdi Putra)

dr. Lety, merupakan anak ketiga dari lima bersaudara, 2 perempuan dan 3 laki-laki.

Ibunya bernama Jusmaniar, sedangkan ayahnya, Bachtiar Husen sudah terlebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa.

Anak-anak pasangan Jusmaniar dan Bachtiar Husen bernama Oeke Gumiarni, Afifi Bachtiar, Letty Sultri. Ferry Bachtiar dan yang bungsu bernama Maya Safira.

Jenazah dr Lety disemayamkan di Masjid Alhidayah, Perguruan Diponegoro, Sunan Giri, Jakarta Timur, menunggu waktu untuk disholatkan. (Warta Kota/Hamdi Putra)

Oeke Gumiarni menetap di Inggris bersama suaminya, sedangkan Afifi Bachtiar dan Maya Safira tinggal di Bengkulu.

dr. Letty sendiri dan Ferry Bachtiar tinggal di Jakarta.

Di Jakarta, dr. Letty tinggal bersama ibunya di rumah milik kakak sulungnya.

Ia juga pernah mengontrak di Jalan Kemuning Nomor Tiga, RT 05 RW 06, Utan Kayu, Jakarta Timur.

dr. Letty merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.

Setelah disolatkan, sekitar pukul satu siang jenazah dibawa ke TPU Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur untuk dikebumikan. (Warta Kota/Hamdi Putra)

Hingga jenazah dikebumikan, hanya Oeke Gumiarni, kakak sulung dr. Letty yang tidak hadir karena yang bersangkutan sedang dalam perjalanan dari Inggris menuju tanah air.

Semasa hidupnya, dr. Letty dikenal sebagai pribadi yang baik dan ramah.

Hal ini diungkapkan oleh Anton dan Dewi, kerabat dr. Lety yang tinggal di Bekasi.

Keluarga dan kerabat dr Lety berdoa bersama setelah jenazah dikebumikan di TPU Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (10/11). (Warta Kota/Hamdi Putra)

"dr. Lety itu baik dan terbuka sama keluarga dan kerabat. Kalau suaminya memang tertutup dan tidak pernah ketemu sejak menikah. Ada acara pun suaminya itu tidak pernah datang, jadi tidak dekat sama kami," ungkap Anton dan Dewi kepada jurnalis Warta Kota setelah proses pemakaman.

Keterangan senada juga disampaikan oleh Jimmy, tetangga Dr. Letty. Ia sering bertemu dr. Lety ketika almarhumah pulang bekerja, baik sebelum berumah tangga dengan Dr. Helmy maupun setelah menikah.

"Kalau pas lewat pulang kerja, dia kan biasa jalan dari depan ke rumahnya. Saya sapa responnya ramah, pasti senyum. Walaupun dia nggak aktif di lingkungan tapi dia ramah sama warga. Tidak seperti suaminya, dari masa pacaran sampai setelah menikah, kalau lewat tidak pernah nyapa," tutur Jimmy di Kantor RW setempat.

Keluarga dan kerabat dr Letty berdoa bersama setelah jenazah dikebumikan di TPU Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (10/11). (Warta Kota/Hamdi Putra)

Di mata keponakannya terutama anak kakaknya, pemilik rumah yang ditempati dr. Lety bersama ibunya, pribadi sang dokter sangat baik.

Bahkan para keponakannya menganggap dr. Lety sebagai sosok ibu kedua.

Apalagi mereka pernah diasuh oleh dr. Lety karena orang tuanya bekerja di luar negeri.

"Sosok Bunga di mata kami sudah seperti ibu kedua. Saya pernah diasuh selama dua sampai tiga tahun karena waktu itu orang tua saya lagi tugas di Italia." kenang Zaza, keponakan dr. Lety.

Bunga merupakan sapaan khusus keponakan dr. Lety untuk sang dokter.

Panggilan tersebut berasal dari Bahasa Bengkulu, Ibu dan Inga. Inga artinya di tengah atau Ibu di tengah.

Menurut keterangan Zaza, dr. Letty dipanggil Bunga karena almarhumah tantenya itu merupakan anak ketiga dari lima bersaudara, posisinya berada di tengah.

Fiko, salah satu keponakan dr. Lety juga menyatakan bahwa tantenya merupakan sosok yang baik.

Fiko merupakan putra dari Afifi Bachtiar, kakak kandung dr. Lety.

"Sama saya deket banget, juga sama keponakan-keponakannya yang lain. Kalau saya datang ke Jakarta mau apa aja pasti dituruti," kenang Fiko.

"Terakhir Bunga ke Bengkulu itu pas Lebaran Haji tahun ini. Om nggak ikut, makanya saya nggak deket bahkan nggak tau," tambah Fiko.

Kini, dr. Letty telah tiada. Menyisakan duka di hati kerabat dan keluarganya.

Namun mereka berharap agar arwah dr. Lety tenang dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Untuk pelaku pembunuhan, dr. Helmi, suami dr. Lety, mereka berharap supaya hukum ditegakkan seadil-adilnya.

Sebelumnya, dr. Lety ditembak mati oleh suaminya dengan enam tembakan di tempat korban bekerja, tepatnya di Azzahra Medical Center, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur.

Kejadian itu berlangsung pada Kamis, 9 November 2017, sekitar pukul dua siang.

Setelahnya, dr. Helmi, pelaku penembakan yang merupakan suami korban menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya.

Polisi menyita dua unit senjata api dari tangan pelaku.

Dugaan sementara, modus penembakan yang mengakhiri hidup dr. Lety adalah karena sang suami tidak terima digugat cerai.

Dari keterangan keluarga korban, dr. Helmi sering malakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap dr. Lety.

Tidak tahan dengan ulah sang suami, akhirnya dr. Lety melayangkan gugatan cerai ke Pengadilan.

Tidak terima, dr. Helmi memutuskan mengakhiri hidup istrinya dengan cara yang keji.

Jasad dr. Lety sempat dibawa ke Rumah Sakit POLRI Kramat Jati untuk diotopsi sampai kemudian dipulangkan ke rumah duka sekitar pukul 11 malam setelah terlebih dahulu dimandikan dan dikafani.

Selamat Jalan Dokter Lety Sultri! (Hamdi Putra)

Artikel ini telah tayang di Warta Kota dengan judul: Selamat Jalan Dokter Letty!