Kisah Haru Pejuang Veteran Ini, Saksikan Ayah Tewas di Tangan Serdadu Belanda

TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Pertumpahan darah dan nyawa merupakan harga yang harus dibayar untuk melepaskan negara dari belenggu penjajahan.

Sebab, merebut kemerdekaan dari tangan penjajah merupakan perjuangan dan dedikasi tak ternilai bagi bangsa dan negara.

Kini negara ini telah merdeka.

Perjuangan melawan penjajah sudah tidak diperlukan lagi.

Tinggal generasi penerus bangsa yang mengisi kemerdekaan untuk mencapai cita-cita menuju bangsa yang memakmurkan segenap warga negaranya.

Bagaimanapun, jasa dan perjuangan para pahlawan tidak dapat dilupakan begitu saja.

Mereka pantas mendapat apresiasi dan penghargaan selama hayat masih di kandung badan mereka.

Beberapa pahlawan yang mengalami hal-hal pahit saat ikut membantu berjuang melawan penjajah, kini mereka di masa tua mereka masih mendedikasikan hidup bagi negara sebagai veteran pejuang.

Seperti yang dilakukan veteran pejuang bernama Samawi Rejo (90).

Baca: Keluarga Histeris Lihat Fitri yang Sedang Hamil Tewas Tergantung

Pria yang nyaris berusia satu abad ini hidup sederhana, menempati kediaman semi permanen di pinggir aliran sungai Bendung, tepatnya di Jalan Rawa Jaya, RT 07, RW 02, Kelurahan Pahlawan, Kecamatan Kemuning, kota Palembang.

Ketika TribunSumsel.com bertandang ke kediamannya, Jumat (10/11/2017), Samawi masih tampak gagah dan gigih menjalani aktivitas sehari-hari.

Pria kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 10 Juni 1927 ini adalah satu dari sekian banyak veteran pejuang yang ada di Palembang.

Walaupun usia sudah sangat sepuh, namun cerita kelam zaman penjajahan masih melekat erat di benaknya.

Saat berbincang, kebetulan dirinya baru pulang usai mengikuti upacara peringatan hari Pahlawan yang terus diikutinya hingga sekarang.

Dipadu dengan topi Pakaian Dinas Harian (PDH) Veteran, Sersan Mayor (Serma) Samawi, tak ubahnya seperti prajurit-prajurit TNI berusia muda dengan semangat tinggi membela bangsa tercinta.

Samawi pun menceritakan kisah kelamnya ketika muda.

Baca: Curhat Novanto: Mengapa Saya Diperlakukan Seperti Ini, Saya Bukan Penjahat

Dirinya terus mengenang pengalamannya selama berjuang membela negara Indonesia dan mewujudkan kemerdekaan yang dirasakan sekarang ini.

Setidaknya, tiga periode pahit telah dialaminya, yaitu masa penjajahan Belanda, Jepang dan Pemberontakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pun dirinya telah merasakan tiga orde pemerintahan di Indonesia setelah merdeka, yakni Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi.

"Kalau saya sudah merasakan semua, dijajah, ditahan, dipukuli sampai perang lawan penjajah," ungkapnya.

Satu pengalaman pahit yang terus melekat di benak Samawi, ketika dirinya menyaksikan ayahnya tewas ditembak serdadu Belanda di kampung halamannya.

Tak ayal, Samawi muda harus melarikan diri ke beberapa tempat untuk terus bertahan hidup, di antaranya ke Semarang, Cirebon, Jakarta dan terakhir di tahun 1940 memilih kota Palembang sebagai tempat perlindungan hingga sekarang.

"Dulu keadaan mencekam, waktu di Jawa (Brebes), ayah ditembak tentara Belanda, kawan-kawan juga (ditembak). Saya menyelamatkan diri sampai ke Palembang," katanya mengisahkan.

Ketika berada di Palembang, Samawi mengaku sering mendapatkan surat dari rekan-rekannya di Brebes untuk kembali ikut berjuang mengusir penjajah di kampung halaman.

Ketika menginjak usia 20 tahun, dirinya memutuskan untuk kembali ke Brebes dengan tekad membantu perjuangan.

Samawi pun sempat beberapa kali tertangkap dan disiksa serdadu Belanda. Namun, dirinya tidak kapok untuk terus berjuang.

Pun saat masa penjajahan Jepang, Samawi mengaku sering mendapat perlakuan kejam dari tentara Negeri Matahari Terbit.

Bahkan dirinya sempat menjalani kerja paksa Romusha selama beberapa bulan.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Samawi masih aktif sebagai pejuang di tanah kelahirannya. Kemudian, dirinya direkrut menjadi seorang anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

“Ketika itu, saya dan rekan-rekan ditugaskan untuk mengamankan wilayah dan menjaga aset-aset daerah yang dikhawatirkan ingin direbut penjajah kembali,” kenangnya.

Usai Merdeka, Samawi pun masih harus berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa dari rongrongan kelompok PKI. Tepatnya, pada 30 September 1965, ketika itu dirinya telah menetap di Palembang.

Samawi yang masih aktif sebagai prajurit, menjadi salah seorang yang turut melakukan penumpasan PKI di Palembang.

Baca: Jadi Tersangka Lagi, Setya Novanto Lawan Balik KPK

“Keberingasan PKI ketika itu, tidak ubahnya seperti Penjajahan Belanda dan Jepang. Dijajah Belanda, Jepang dan ulah PKI, semua sama saja,” tegasnya sembari memandang ke plafon rumahnya, seolah mengenang peristiwa silam yang dialami.

Dirinya bersyukur, pemberontakan yang dilakukan PKI akhirnya bisa ditumpas. Akhirnya, Samawi Rejo pensiun pada tahun 1987 dengan pangkat terakhir Serma.

Kini, dirinya menjalani hidup sebagai anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Palembang.

Atas pengalaman hidup dan perjuangan yang dilakukannya, Samawi Rejo mendapatkan penghargaan sebagai Veteran Pejuangan dengan klasifikasi A.

Ia juga aktif selalu mengikuti kegiatan yang dilakukan LVRI.

Di Hari Pahlawan yang terus diperingati pada tanggal 10 November, dirinya menitipkan pesan kepada generasi muda melalui TribunSumsel.com.

“Generasi sekarang, tidak perlu berjuang menumpahkan darah. Manfaatkanlah Kemerdekaan yang dirasakan sekarang oleh para pejuang pendahulu kita. Generasi muda, generasi merdeka, harus bisa menjadikan negara Indonesia yang kuat dan disegani. Berikanlah kontribusi positif bagi bangsa dan negara,” pintanya. (Agung Dwipayana)

Artikel ini telah tayang di Tribun Sumsel dengan judul: Ayah Tewas di Tangan Serdadu Belanda, Kisah Veteran Pejuang Ini Bikin Terenyuh!