Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Ingin Terhindar dari Penipuan Mengatasnamakan Bea Cukai? Cermati Modus yang Sering Digunakan Pelaku

Upaya penipuan yang mengatasnamakan Bea Cukai kembali marak terjadi menjelang akhir tahun. Mulai dari modus lama seperti barang kiriman dan penjualan

Ingin Terhindar dari Penipuan Mengatasnamakan Bea Cukai? Cermati Modus yang Sering Digunakan Pelaku

Upaya penipuan yang mengatasnamakan Bea Cukai kembali marak terjadi menjelang akhir tahun. Mulai dari modus lama seperti barang kiriman dan penjualan online hingga modus yang terbilang baru seperti panggilan telepon melalui nomor yang menyerupai call center hingga panggilan notifikasi bea masuk dan pajak yang terutang.

Dilihat dari korbannya pun sangat beragam mulai dari pelajar dan mahasiswa, masyarakat awam, pejabat hingga public figur seperti atlet ASIAN Games. Lalu bagaimana cara mengenali modus penipuan ini sehingga masyarakat tidak menjadi korban?

Kepala Sub Direktorat Komunikasi dan Publikasi, Deni Surjantoro, menyatakan setidaknya ada tiga modus utama penipuan yang mengatasnamakan Bea Cukai seperti yang telah disebutkan di atas.

“Sebenarnya modusnya itu-itu saja, tetapi karena mungkin masyarakat masih belum terlalu paham atau ada hal lain, misalnya kondisi psikologis orang itu kalau menerima barang pasti senang, tidak berpikir jernih dan curiga kalau ini penipuan, sehingga masih ada yang menjadi korban. Khusus modus baru yaitu panggilan notifikasi bea masuk atau pajak saat ini masih kita dalami” ujar Deni saat ditemui disela kesibukannya.

Lebih lanjut Deni memaparkan secara gamblang bagaimana modus ini dijalankan. Modus pertama yakni barang kiriman adalah modus yang paling sering ditemukan. Di sini biasanya korban berkenalan dengan pelaku melalui apikasi sosial media. Dari kedekatan di sosial media tersebut, pelaku akan memanfaatkan kepercayaan korban.

Pelaku mengirimkan paket yang biasanya berisi barang berharga seperti smartphone, barang elektronik, perhiasan, tas mewah, uang atau benda berharga lain. Dalam melancarkan aksinya tak jarang pelaku memberkan resi palsu serta membuat halaman pengecekan palsu guna meyakinkan korban bahwa paket tersebut benar benar dikirim. Ketika korban melakukan pengecekan pada halaman palsu tersebut maka seolah olah barang sudah berada di Indonesia dan tertahan di Bea Cukai.

Lalu bagaimana cara mengenali resi palsu ini? “Biasanya resi palsu itu bentuknya ya gitu gitu aja, paling beda warna atau beda susunan, tapi formatnya mirip mirip. Lalu biasanya jenis kirimannya adalah DIPLOMATIC COURIER atau DOMESTIC COURIER,” Deni menjelaskan.

Diplomatic courier adalah kiriman khusus yang digunakan oleh korps diplomatic yang bertugas di Indonesia sehingga tidak mungkin ditujukan oleh masyarakat biasa, sedangkan domestic courier, sesuai namanya, hanya digunakan di area domestik (negara asal) sehingga tidak mungkin digunakan untuk pengiriman luar negeri.

Dalam modus ini kadang pelaku memanfaatkan kepercayaan korban. “Ada lho yang mengaku sudah tunangan, mengaku akan menikah dan lain lain sehingga mereka sangat percaya kalau pelaku adalah orang yang baik. Kondisi psikologi seperti ini yang kadang membuat mata hati mereka seperti tertutup dan seolah tidak percaya dengan informasi yang kita berikan,” lanjut Deni.

Modus yang kedua adalah pembelian melalui toko online didalam negeri. Untuk menjerat korban pelaku memasang harga yang sangat tidak masuk akal dengan tambahan informasi barang Black Market (BM), barang sitaan, barang lelang bea cukai, barang tanpa melewati pemeriksaan bea cukai, barang tanpa stempel pajak dan lainnya yang seolah olah menguatkan bahwa harga tidak wajar tersebut karena tidak melewati prosedur resmi. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada apabila menjumpai toko online semacam ini.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Content Writer
  Loading comments...

Baca Juga

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas