Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

75 Persen Produksi Batubara Nasional Diekspor

Kementerian ESDM menyebutkan 75 persen dari total produksi batubara diekspor. Ekspor Batubara

75 Persen Produksi Batubara Nasional Diekspor
banjarmasin post
Aktivitas lokasi pertambangan di Kalimantan terpantau dari udara, rawan terjadi masalah, diantarannya kerusakan hutan, dan banjir. Biasanya mereka meninggalkan lubang besar berbentuk danau setelah isi perut bumi digali. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Kementerian ESDM menyebutkan 75 persen dari total produksi batubara diekspor. Ekspor Batubara ini diekspor utamanya ke Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Eropa.

Sebagian besar dari kualitas batubara ekspor batubara sub-bituminous dan bituminous. Sedangkan batu bara peringkat rendah terutama digunakan untuk pasar domestik.

“Indonesia akan terus memungkinkan peran ganda batubara, yaitu sebagai sumber penerimaan negara, serta untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri," kata Menteri ESDM, Darwin Saleh, saat membuka The 17th Annual Coaltrans Asia, dikutip dari kementerian ESDM, Selasa (31/5/2011).

Lebih lanjut, Menteri menjelaskan kenaikan permintaan batubara dalam negeri akan sejalan dengan program akselerasi untuk membangun 10.000 MW kapasitas listrik di tahap I dan satu lagi 10.000 MW di tahap II.

Pada tahap I, menurutnya, pembangkit listrik adalah 100 persen batu bara. Untuk tahap II, pembangkit listrik akan terdiri 40 persen batu bara dan sisa 60 persen dari energi baru dan terbarukan, terutama panas bumi.

Dijelaskan total sumber daya batubara di Indonesia diperkirakan mencapai 105 miliar ton, dimana cadangan batu bara diperkirakan 21 miliar ton. tambang batubara utama berlokasi di Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Produksi batubara meningkat sebesar 16% per tahun selama 5 tahun terakhir.

Lebih lanjut, dia menerangkan pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar akan terus diupayakan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi.

Dalam aspek regulasi, Pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri ESDM No 34 tentang Prioritas Mineral dan Batubara Pasokan Kebutuhan Dalam Negeri. Sesuai Keputusan ini, Domestik Market Obligation (DMO) adalah wajib bagi semua perusahaan pertambangan batubara.

“Kewajiban DMO sebenarnya juga dinyatakan dalam Kontrak Karya Batubara (Timbara). Perusahaan dapat mengekspor bagian produksi setelah kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi,” urainya.

Pemerintah telah mengatur harga penjualan batubara yang tercantum dalam Peraturan Menteri Nomor 17/2010, tentang prosedur untuk menetapkan harga patokan dan penjualan mineral dan batubara. Dengan diterbitkannya peraturan ini diharapkan dapat memberikan kepastian acuan bagi produsen dan konsumen batubara, serta mengoptimalkan penerimaan negara harga bagi produsen batubara dan pemain bisnis di Indonesia.

Terkait dengan peningkatan nilai tambah batubara, dalam Undang-Undang Nomor 04/2009 mengamanatkan bahwa semua mineral dan batubara harus diproses di Indonesia. “Ini merupakan salah satu upaya kami untuk mengoptimalkan manfaat dari industri pertambangan bagi rakyat Indonesia. Keberhasilan kebijakan ini akan meningkatkan penerimaan negara, pekerjaan baru terbuka / lapangan kerja, dan menciptakan efek multiplier batubara,” ujar Menteri.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas