Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Bisnis Ambulans Udara Masih Sepi Pemain

Peluang bisnis medical evacuation (medevac/medivac) masih terbuka cukup lebar di Indonesia

Bisnis Ambulans Udara Masih Sepi Pemain
ytimg.com

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kesehatan merupakan kebutuhan utama manusia. Tak heran, segala upaya sering dilakukan seorang manusia untuk mendapatkan pengobatan maksimal bagi kesehatannya atau anggota keluarganya yang sedang sakit. Bahkan, mereka tak ragu merogoh kantong dalam-dalam demi upaya tersebut.

Demi menyelamatkan nyawa orang yang dikasihi, dengan waktu yang terdesak, sebagian orang mengirim anggota keluarga ke rumah sakit yang mampu memberikan pengobatan maksimal. Lantaran harus mengejar waktu, mereka menyewa pesawat khusus yang memberikan fasilitas pengiriman pasien. Layanan ini sering disebut sebagai ambulans udara.

Inilah peluang yang diterjuni Boedi Krisnawan, Direktur Elang Lintas Indonesia (ELI). Sejak tahun lalu, pria kelahiran Rembang ini merintis bisnis evakuasi udara dengan menggunakan pesawat jet.

Awalnya, dia hanya mengoperasikan satu pesawat Beech Jet 400A. Kemudian, dia menambahkan dua armada lagi: Beech Jet 400A dan Hawker 800. Dengan pesawat terakhir, kata Boedi, penerbangan bisa lebih cepat, karena pesawat ini tak perlu sering mengisi bahan bakar.

Semua pesawat itu dilengkapi dengan stretcher spectrum atau tempat tidur pasien yang memang didesain khusus untuk pesawat Beech Jet 400A. Pesawat itu juga dilengkapi peralatan pernafasan yang terpasang dengan rel yang mudah keluar masuk tanpa perlu dibongkar agar si pasien nyaman.

Peluang bisnis medical evacuation (medevac/medivac) masih terbuka cukup lebar di Indonesia. Medivac adalah sebuah kerja penyelamatan berupa evakuasi untuk korban kecelakaan atau sakit dengan kondisi kritis ke tempat yang dituju. Evakuasi udara lengkap dengan peralatan medis pun menjadi jalan cepat untuk tindakan penyelamatan tersebut.

Dalam sebulan, ELI bisa melayani antara tujuh hingga delapan pasien yang butuh evakuasi. Boedi menuturkan, kebanyakan permintaan evakuasi berasal dari daerah di kawasan timur Indonesia, seperti Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Yang menjadi tujuan evakuasi dari pasien di kawasan ini adalah rumahsakit-rumahsakit yang berada di Denpasar, Surabaya, dan Jakarta.

Sedang pasien yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur biasanya menuju rumah sakit di Jakarta atau di Singapura. Selain ke rumah-rumah sakit di kota-kota itu, ELI juga melayani penerbangan tujuan Singapura dan Malaysia.

Berkaitan dengan bisnis ini, ELI sudah mendapatkan izin mendarat dan terbang dari otoritas penerbangan di Singapura sebanyak delapan kali per bulan. “Jika permintaan melebihi jumlah itu, kami harus mengajukan izin kembali ke mereka,” jelas Boedi.

Banderol biaya untuk evakuasi udara ini dipatok per jam. Besarnya 35.000 dolar AS per jam terbang. Perhitungan biaya dimulai ketika pesawat terbang dari pangkalan Halim Perdanakusumah, yang menjadi pangkalan induk pesawat-pesawat milik ELI, menuju ke bandara penjemputan pasien. Lalu, penerbangan menuju bandara tujuan dan penerbangan pesawat kembali ke pangkalannya.

Jadi, misalnya, ketika ada pasien yang harus dijemput di Sentani, Irian Jaya, dengan tujuan rumahsakit di Denpasar, Bali, banderol harga yang ditetapkan adalah penerbangan Halim menuju Sentani. Lalu, ditambah Sentani menuju Denpasar, dan dilanjutkan Denpasar ke Jakarta.

Untuk meringankan biaya evakuasi ini, Boedi berniat mengembangkan pangkalan sendiri di kawasan Indonesia Timur, seperti Denpasar, Maluku maupun NTT. “Dengan biaya yang lebih ringan, kami ingin lebih banyak pasien yang bisa dievakuasi,” tutur Boedi.

Prospek bisnis ambulans udara ini cukup baik lantaran jumlah rumahsakit di daerah masih terbatas. Apalagi, rumah sakit yang punya fasilitas dan pelayanan lengkap. Sementara, peluang untuk menyelamatkan pasien di rumahsakit lain terbuka lebar.(J Ani Kristanti, Marantina)

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Sanusi
Sumber: Kontan
  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas