Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Ipang Wahid: Ekonomi Kreatif Butuh Regulasi

Ekosistem industri kreatif implementasinya harus terkait langsung terhadap kebijakan

Ipang Wahid: Ekonomi Kreatif Butuh Regulasi
DPD
Ipang Wahid 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Tim Ahli Ekonomi DPD RI Ipang Wahid meminta agar pemerintah segera membuat regulasi bagi para pelaku ekonomi kreatif.

Sektor ekonomi masuk domain ekonomi kreatif, antara lain desain, arsitektur, media konten, fashion, perfilman, seni pertunjukan, seni rupa, industri musik, dan kuliner.

Produk-produk ekonomi kreatif saat ini memiliki banyak keunggulan dan sangat penting untuk menunjang perekonomian.

“Regulasi ini sangatlah penting untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia,” katanya, dalam uji sahih RUU Ekonomi Kreatif di Biro Rektor USU, Jumat (16/10/15)

Menurutnya, ekonomi kreatif ada berbasis seni dan budaya, ada juga yang berbasis desain dan media. Menggerakkan ekonomi kreatif cukup dengan cara connecting, collaboration dan commerce/celebration.

“Connecting yaitu perpaduan antara akademis, bisnis, pemerintah dan masyarakat. Collaboration melibatkan seni desain berpadu dengan proses industri kreatif. Sedangkan commerce/celebration menyangkut produk, event, dan pasar,” ucapnya.

Ekosistem industri kreatif implementasinya harus terkait langsung terhadap kebijakan. Wahid menambahkan, ekonomi kreatif adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan kreatifitasnya yang menghasilkan karya kreatif dan mendapatkan nilai ekonomis.

“Ekonomi kreatif sebagai soft power melibatkan inteletualitas, ekonomi dan budaya,” sebut Ipang yang juga pelaku ekonomi kreatif tersebut.

Bagaimana mengoptimalkan kreatifitas sehingga nilai ekonomisnya tinggi. “Kadang-kadang kita lupa bahwa sebuah brand bisa memberikan dampak ekonomi yang luar biasa,” ujarnya.

Menurutnya, ekonomi kreatif berhubungan erat dengan SDM kreatif, ini penting karena kualitas dan kuantitas SDM dalam subsektor ini masih sangat terbatas.

“Menciptakan pola pikir dan budaya kreatif itu kaitannya dengan pendidikan. Ilmu, inovasi dan budaya bila berjalan beriringan maka hasilnya akan luar biasa,” jelasnya.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Hendra Gunawan
  Loading comments...

Baca Juga

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas