Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Kemenperin Prioritaskan Pembangunan Industri Petrokimia

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprioritaskan pembangunan industri petrokimia di dalam negeri dapat dipercepat

Kemenperin Prioritaskan Pembangunan Industri Petrokimia
TRIBUNNEWS.COM/TRIBUNNEWS.COM/LENDY RAMADHAN
Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprioritaskan pembangunan industri petrokimia di dalam negeri dapat dipercepat pada tahun 2017.

Sebagai salah satu sektor strategis, industri petrokimia berperan penting untuk memasok bahan baku bagi banyak manufaktur hilir seperti industri plastik, tekstil, cat, farmasi dan kosmetik.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, hingga saat ini sudah ada dua perusahaan petrokimia yang telah melaporkan kepada dirinya untuk investasi di Indonesia dalam rangka menambah kapasitas dan membangun pabrik baru.

Kedua perusahaan petrokimia yang siap melakukan investasi tersebut ialah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dan industri petrokimia asal Korea Selatan, Lotte Chemical Titan.

Dalam rangka peningkatan kapasitas produksi, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk selaku industri nasional akan memberikan investasi sebesar USD6 miliar atau sekitar Rp80 triliun sampai tahun 2021.

“Tahun ini, perseroan akan berinvestasi sebesar USD150 juta untuk menambah kapasitas butadiene sebanyak 50 ribu ton per tahun dan polietilene 400 ribu ton per tahun," kata Airlangga di Sidoarjo dalam keterangan yang diterima, Kamis (23/2/2017).

Sedangkan industri petrokimia asal Korea Selatan, Lotte Chemical Titan juga akan segera merealisasikan investasinya sebesar USD 3-4 miliar atau sekitar Rp52-53 triliun untuk memproduksi nafta cracker dengan total kapasitas sebanyak 2 juta ton per tahun. Bahan baku kimia tersebut diperlukan untuk menghasilkan ethylene, propylene dan produk turunan lainnya.

Sebagai upaya mempercepat realisasi investasi industri petrokimia, Menteri Airlangga juga mengusulkan agar sektor ini mendapatkan penurunan harga gas. Dengan harga gas yang kompetitif, dapat dipastikan daya saing industri petrokimia nasional akan semakin meningkat.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono menargetkan investasi di sektor IKTA sepanjang tahun ini dapat mencapai Rp152 Triliyun dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp110 triliun.

"Kami optimistis pertumbuhan industri petrokimia nasional dapat naik sebesar 6 persen pada tahun ini. Kalau tahun sebelumnya pertumbuhan industri hanya mencapai 5,2 persen," kata Sigit.

Sigit juga mengungkapkan pembangunan industri petrokimia ini tidak hanya sebagai sektor strategis dalam jangka pendek, karena pembangunannya memerlukan waktu 4 hingga 5 tahun.

“Maka itu tahun ini harus sudah mulai persiapan," katanya.

Menurutnya, ketersediaan gas tidak selalu ada dan dapat diperoleh dengan mudah. Misalnya di Bintuni, meskipun kawasan ini terdapat sumber gas yang potensial untuk mensuplai bahan baku industri petrokimia, namun ketersediaan gas baru akan onstream pada tahun 2021.

"Sambil nunggu gas tersedia, tahun ini juga harus mulai ada kontrak offtake antara investor dan PT, PI, Ferrostal atau yang lainnya, yang saat ini sudah ada MOU untuk joint ventur," kata Sigit.

  Loading comments...
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas