Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pemerintah Diminta Perhatikan 3 Aspek saat Genjot Pembangunan

Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia mengingatkan agar pembangunan nasional harus menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan

Pemerintah Diminta Perhatikan 3 Aspek saat Genjot Pembangunan
Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Pekerja tegah memasang besi tiang pacang pembangunan Light Rail Transit (LRT) di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/3/2017). Pemangunan LRT Koridor 1 (Fase 1) Kelapa Gading Velodrome atau Rawamangun dan Depo LRT Jakarta ini diharapkan bisa selesai sesuai target selesai pada 2018 medatang. Warta Kota 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia (Indonesian Environmental Scientists Association/IESA) mengingatkan agar pembangunan nasional harus menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan sebab sumber daya alam dan jasa lingkungan memiliki keterbatasan.

Ketua Umum IESA Tri Edhi Budhi Soesilo mengungkapkan tantangan utama pembangunan nasional saat ini antara lain, terus bertambahnya jumlah penduduk yang mendorong meningkatnya kebutuhan dan keinginan atas barang dan jasa.

Di sisi lain, sumber daya alam tidak terbarukan semakin terbatas dan terjadi deplesi (penyusutan) kapital alam. Sementara tingkat pengetahuan dan ketrampilan di Indonesia yang masih rendah.

“Serta pada kenyatannya, teknologi tidak mampu menggantikan sebagian besar fungsi sumber daya alam dan jasa lingkungan,” kata dia, dalam keterangan tertulis, Minggu (19/3/2017).

Permintaan ini merupakan pernyataan IESA dalam manifestonya pada Kongres Pembangunan dan Lingkungan 2017 di Jakarta, akhir pekan lalu.

Berdasarkan proyeksi Bappenas, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 305,6 juta jiwa pada 2035. Sementara berdasarkan perhitungan Kementerian energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2009, cadangan minyak mentah Indonesia akan habis dalam kurun 22,9 tahun, gas habis dalam 58,9 tahun, dan batu bara habis dalam 82 tahun.

Sementara menurut kajian UNDP tahun 2014, indeks pembangunan manusia di Indonesia saat ini baru mencapai 0,684 dan berada di rangking 110. Sedikit di atas Filipina yang berada di peringkat 115, namun jauh di bawah Tiongkok yang berada di peringkat 90.

Dalam situasi tersebut, bencana alam di Indonesia justru menunjukan peningkatan. Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kejadian bencana di Indonesia naik dari 143 kejadian pada tahun 2002 menjadi 1.967 kejadian pada tahun 2014.

Sekitar 98 persen dari total kejadian bencana per tahun, adalah bencana hidrometeorologis seperti anjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan. Tren bencana ke depan diproyeksi BNPB akan terus meningkat dikarenakan perilaku manusia (antropogenik).

Ketua Bidang Kerjasama dan Komunikasi IESA Mahawan Karuniasa menambahkan, meningkatnya bencana hidrometeorologis tak bisa lepas dari perubahan iklim yang saat ini terjadi.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas