Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Produksi Terus Merosot, Indonesia Mulai Krisis Kelapa

Saat negara penghasil kelapa menikmati kenaikan permintaan produk kelapa global, Indonesia malah terpuruk di sektor hulu hingga hilirnya

Produksi Terus Merosot, Indonesia Mulai Krisis Kelapa
net
Ilustrasi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Saat negara penghasil kelapa menikmati kenaikan permintaan produk kelapa global, Indonesia malah terpuruk di sektor hulu hingga hilirnya. Indonesia menghadapi berbagai persoalan dan dilema yang berlarut-larut.

Dalam dua tahun ini harga kelapa butir naik hingga 75 persen, akan tetapi bukan karena tumbuhnya industri dalam negeri. Harga didongkrak oleh ekspor kelapa butir ke Thailand, Malaysia dan China.

Tiga negara yang jika luas kebunnya digabung hanya sebesar 316 ribu hektar, masih jauh dari luas kebun kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir Riau sebesar 426 ribu hektar.

"Sektor kelapa kita saat ini dilanda carut marut. Di sektor hulu terjadi penurunan produksi kelapa yang memprihatinkan. Produksi nasional pada 2012 sempat tercatat 16 milliar butir, kini menurut data APCC (Asian and Pacific Coconut Community) hanya berkisar 14,8 milliar butir," kata .

Menurut Ardi M.Simpala dari Sahabat Kelapa Indonesia penurunan ini terjadi akibat beberapa faktor. Pertama kebun kelapa yang terus berkurang dengan perkiraan laju rata-rata 24 ribu hektar pertahun.

Padahal program peremajaan kelapa pemerintah pusat hanya sebesar 16 hingga 18 ribu hektar per tahun. Tidak heran kini tersisa hanya 3,57 juta hektar,menurun sejak tahun 2003 yang pernah mencapai 3,91 juta hektar.

Kedua produktivitas pohon kelapa kita sangat rendah. Tingkat produktivitas kelapa kita 2,8 kali lebih rendah dibanding India. Jika produksi kita hanya 40 butir per pohon per tahun, maka India mencapai 113 butir. Kebun kelapa di India memang terawat baik, disiangi dan dipupuk sebulan sekali. Kebun di Indonesia dibiarkan begitu saja.

Faktor ketiga tidak ada perhatian serius terhadap kelapa. Kelapa belum dianggap komoditas penting, padahal manfaat ekonominya atau multiplier effect-nya sangat besar, memiliki banyak produk turunan dan kebunnya dimiliki 98% masyarakat atau petani.

Disektor hilir tidak kalah rumitnya. Dikotomi kepentingan industri dan petani telah berlangsung sejak tiga hingga empat tahun hingga kini tanpa regulasi. Selain petani yang masih miskin, industri kelapa kita makin lemah.

Terbukti dengan banyaknya pabrik pengolah kelapa terutama tepung kelapa, santan, minyak kelapa, briket arang kelapa yang telah tutup dan bangkrut.

Menurut Mohamad Tohier, sekjen Perhimpunan Pengusaha Minyak Kelapa Indonesia(PEPMIKINDO) yang juga seorang pengusaha VCO, jumlahnya diperkirakan sekitar 60-65%. Yang bertahan, imbuhnya berjalan kembang kempis hanya untuk mempertahankan usaha.

FAO 4 tahun lalu sebenarnya telah memperingatkan kita akan krisis ini, kenang Ardi Simpala yang saat itu masihsebagai staf di APCC.

  Loading comments...
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas