Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Produk Alternatif Tembakau Bisa Selamatkan Jutaan Nyawa?

jutaan nyawa berpotensi diselamatkan jika perokok beralih ke produk alternatif tembakau, seperti vape, nikotin tempel

Produk Alternatif Tembakau Bisa Selamatkan Jutaan Nyawa?
KOMPAS IMAGES
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menurut penelitian yang dilakukan oleh Georgetown University Medical Center Amerika Serikat, jutaan nyawa berpotensi diselamatkan jika perokok beralih ke produk alternatif tembakau, seperti vape, nikotin tempel, serta produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar.

Dalam sebuah analisis mengenai potensi manfaat kesehatan dari berhenti merokok (rokok yang dikonsumsi dengan dibakar), para peneliti menemukan sebanyak 6,6 juta orang di Amerika Serikat dapat terhindar dari kematian dini.

Jika dijumlahkan, perpindahan ke produk alternatif tembakau dapat menyelamatkan secara kumulatif sekitar 86,7 juta ekstra tahun kehidupan.

Penulis utama dalam studi ini, David Levy, menyampaikan bahwa kebijakan yang lama perlu diperkuat dengan kebijakan yang mendorong agar produk alternatif tembakau menggantikan rokok yang dikonsumsi dengan dibakar yang sudah jelas lebih berbahaya.

Sebagaimana dipublikasikan dalam jurnal Tobacco Control, studi ini menggunakan skenario terbaik dan terburuk, serta membuat model potensi dampak kesehatan masyarakat bila rokok yang dikonsumsi dengan dibakar digantikan dengan rokok elektrik, salah satu produk alternatif tembakau.

“Meskipun risiko-risiko kesehatan dari rokok elektrik masih perlu untuk terus diteliti, namun hasil studi kami menunjukkan bahwa meski menggunakan skenario terburuk, beralih ke rokok elektrik akan tetap lebih aman karena masih tetap akan menyelamatkan jutaan nyawa,” ujar David.

Sebagai salah satu negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia, Indonesia seyogyanya memanfaatkan inovasi yang dihadirkan oleh produk alternatif tembakau sebagai solusi menyelamatkan jutaan jiwa.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi perokok di Indonesia pada usia 15 tahun meningkat sebesar 36,3 persen dibandingkan dengan tahun 1995 sebesar 27 persen.

Dosen Fakultas Kedokteran Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Padjajaran Bandung dr. Ardini Raksanagara berpendapat,
“Produk alternatif tembakau ini nantinya akan membantu perokok untuk secara bertahap mengurangi konsumsinya,” tutur Ardini.

Ardini juga menilai perlunya peran pemerintah sebagai regulator untuk mulai mempelajari inovasi produk alternatif yang memiliki risiko kesehatan lebih rendah daripada rokok yang dikonsumsi dengan dibakar.

Ardini mengatakan, riset-riset terdahulu dari negara maju menyatakan bahwa produk alternatif tembakau membantu menekan risiko hingga 90-95 persen. Karena itu, pemerintah harus sangat berhati-hati.
Seharusnya dilakukan penelitian yang mendalam mengenai produk ini karena sangat berpotensi menurunkan risiko kesehatan jutaan masyarakat Indonesia.

"Namun, saya juga setuju bahwa peraturan yang ketat juga harus diterapkan, terutama untuk menghindari konsumsi masyarakat di bawah umur,” jelas perempuan yang juga Dewan Penasihat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Jawa Barat ini.

David Levy juga menyebutkan terdapat pihak-pihak tertentu yang berusah memecah pandangan organisasi kontrol tembakau.

“Kami melihat perpecahan pandangan ini mengarah pada perselisihan yang kontra produktif. Kami menyarankan agar seluruh pihak dapat menggunakan strategi berdasarkan pada kajian yang ilmiah,” tuturnya.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas