Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Kementan Diminta Perhatikan Kebutuhan Jagung untuk Pakan

Forum Peternak Layer (petelur) Nasional mengaku kesal dengan kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) terkait impor jagung untuk pakan ternak.

Kementan Diminta Perhatikan Kebutuhan Jagung untuk Pakan
surya/hanif manshuri
Aktivitas produksi pakan ternak alternatif dari limbah bonggol jagung yang ditekuni Iswandi warga Lamongan, Senin (15/10/2018) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Forum Peternak Layer (petelur) Nasional mengaku kesal dengan kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) terkait impor jagung untuk pakan ternak.

Pasalnya, kementan dianggap kontraproduktif karena mengajukan rekomendasi, namun menyangkal kelangkaan jagung di pasaran.

Presidium Forum Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi pun menganggap, sikap kementerian ini tidak adil.

Baca: Hotman Paris Tanyakan Godaan dari Sugar Daddy, Luna Maya Ungkap Pengalamannya Dirayu Penjabat

Di satu sisi, Kementan terus mengimbau peternak layer untuk meningkatkan produksi agar tidak perlu dilakukan impor daging maupun telur ayam ras. Tapi di sisi lain, Kementan seakan menghambat turunnya surat rekomendasi impor yang telah disepakati karena adanya kontradiksi dalam internalnya.

“Kita menggugat ketidakadilan posisi dari Kementan untuk memenuhi kebutuhan kami. Masak untuk hal yang segenting ini, yang menyangkut kepentingan nasional, sudah hampir seminggu buat rekomendasi impor saja nggak turun-turun. Ada apa sebenarnya?” ujarnya seperti dikutip dari Antaranews.com Kamis (8/11/2018).

Ki Musbar mengingatkan, dengan harga jagung yang saat ini sudah mencapai Rp5.800 per kilogram, ancaman naikknya harga telur yang merupakan salah satu sumber protein utama nasional di bulan Desember semakin pasti. Soalnya biaya jagung berkontribusi 50persen dari total biaya produksi pakan ternak.

“Nanti Desember harga bisa Rp40 ribu. Karena dari farmgrade Rp30 ribu,” ujarnya lagi.

Untuk itulah, ia mendesak agar surat rekomendasi impor dapat segera diturunkan. Peternak layer kata dia, membutuhkan kejelasan suplai jagung sampai akhir tahun nanti.

Berulangnya kelangkaan jagung membuat peternak ayam layer memandang Mentan Amran Sulaiman tidak bisa mengantisipasi rutinitas tahunan ini.

Pasalnya, tiap tahun di kisaran bulan Juli hingga Oktober, harga jagung memang biasa naik. Ki Musbar pun bingung dengan pernyataan Mentan yang menganggap impor 50 sampai 100 ribu ton dalam rekomendasi adalah jumlah yang sangat kecil. Di mana angka tersebut tidak bisa dipandang bahwa stok jagung nasional mengalami kondisi defisit.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Sanusi
Sumber: Warta Kota
  Loading comments...

Baca Juga

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas