Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Benahi Tata Kelola Distribusi Jagung

Kementerian Pertanian terus memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengatasi kendala tata kelola distribusi jagung

Benahi Tata Kelola Distribusi Jagung
Syahrizal
Kementerian Pertanian terus memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengatasi kendala tata kelola distribusi jagung. Sebab, saat ini kendala distribusi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan naiknya harga jagung pakan. 

Tribunnews.com, meninjau langsung kedua tempat lokasi panen raya di Jawa Timur. Di Desa Bulubrangsi, Kecamatan Laren, Lamongan, Jawa Timur panen dilaksanakan di kecamatan Laren seluas 45 ha. Bulan November ini diperkirakan akan panen seluas 1.413 ha dengan perkiraan produksi sebesar 9.499 ton.

Saat ini, 6.800 ton stok jagung di Lamongan saat ini. Kabupaten Lamongan sebagai sentra produksi jagung di Jawa Timur, bahkan di beberapa wilayahnya mampu mencapai provitas 9 ton/ha.

Sedangkan di Tuban panen dilaksanakan di kecamatan Tambakboyo seluas 99 ha. Di bulan November ini diperkirakan akan panen seluas 4.037 ha dengan perkiraan produksi sebesar 21.762 ton. Di dua lokasi tersebut, Kementerian Pertanian memberikan bantuan lima alat pengering (dryer) sebanyak 5 unit di 5 titik lokasi untuk mengatasi permasalahan proses pengeringan jagung.

Muhamad Nuril Huda, petani jagung Desa Bulubrangsi, mengisahkan, selain kendala yang sering dihadapi petani soal serangan hama, ia juga mendorong agar pemerintah menjaga kestabilan harga pascapanen.

Saat ini rata-rata harga jagung di tingkat petani di level Rp 4.700 per kilogramnya. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan 58 Tahun 2018, harga acuan jagung di tingkat pabrik ditetapkan Rp 4.000 per kg. Namun, harga jagung dengan kadar air 15 persen di gudang pabrik di sentra produksi pakan seperti Banten, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara umumnya telah lebih dari Rp 4.000 per kg pada Juli 2018 dan kini lebih dari Rp 5.000 per kg.

“Yang penting kestabilan harga, sehingga ketika panen raya harga tidak jatuh,” katanya.

Senada, Jalil Zufri, petani jagung di Tambakboyo, kepada Tribunnews.com menuturkan, saat musim kemarau, seringkali mengalami kesulitan jaringan irigasi. Untuk itu, ia mendorong adanya sumur bor, sehingga kabutuhan air akan tetap terpenuhi dan menghindari risiko gagal panen.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Sanusi
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas