Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Jasa Antaran Barang Lalamove Terapkan Sistem Order, Tidak Pasang Fitur Bidding di Aplikasi

Startup Lalamove yang sudah beroperasi di Hongkong sejak lima tahun lalu dengan dukungan pendanaan dari investor berbasis di China.

Jasa Antaran Barang Lalamove Terapkan Sistem Order, Tidak Pasang Fitur Bidding di Aplikasi
gadgetsmagazine.com.ph
Jasa antara barang Lalamove menggunakan armada motor di Filipina. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Startup di bisnis jasa antaran kini tumbuh seperti cendawan di musim hujan. Selain, Go-Send dari grup Go-Jek dan Deliveree, kini muncul lagi startup baru layanan antaran barang Lalamove Indonesia.

Ini bukan startup lokal, karena merupakan ekspansi dari startup Lalamove yang sudah beroperasi di Hongkong sejak lima tahun lalu dengan dukungan pendanaan dari investor berbasis di China, dan kemudian memperluas bisnisnya ke sejumlah negara di Asia seperti Taiwan, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura dan Indonesia.

Di Indonesia, startup ini beroperasi sejak bulan November 2018 dan mengklaim sukses merangkul sekitar 4.000 mitra driver 4000 motor dan 2000-an mitra driver mobil. "Pertumbuhan driver kita naik 180 persen dari target kita di tahun 2018 ini," lanjut David Ceasario, Marketing Manager Lalamove Logistik Indonesia, perusahaan yang menaungi Lalamove Indonesia dalam perbincangan dengan Tribunnews di Jakarta, Jumat (8/12/2018).

Armada roda empat terdiri dari jenis MPV, city car dan van seperti Toyota Avanza dan Daihatsu Granmax. 

Berbeda dengan startup jasa antaran lainnya yang sudah lebih dulu ada, Lalamove hanya mengenakan sistem order oleh pelanggan melalui aplikasi di smartphone atau website mereka. Kemudian, Lalamove akan menghubungkan pemesan ke mitra driver terdekat dalam jangkauan radius 5 kilometer dari lokasi customer yang melakukan pemesanan.

Baca: Ke Jepang, Velove Vexia Jatuh Cinta Pada Keindahan Sapporo

"Kita tidak berlakukan sistem bidding ke mitra driver," ungkap David. Mitra pengemudi mobil dan motor yang akan bergabung disyaratkan memiliki kendaraan dengan usia pakai maksimum 5 tahun sejak saat mendaftarkan kendaraannya.

Menariknya, order pengiriman barang oleh customer ke Lalamove bisa dilakukan dengan penjadwalan untuk hari H saat order kiriman diajukan sampai dengan antaran untuk 1 bulan ke depan. "Untuk kiriman barang dengan van atau mobil, pemilik atau pengantarnya boleh ikut naik," kata dia.

Baca: Pekerjaan Renovasi Apartemen Molor, Artis Seksi Five Vi Laporkan Kontraktor ke Polisi

Untuk sementara, Lalamove belum sediakan jasa angkutan bulk cargo. 

Demi menggenjot customer, Lalamove memaksimalkan penggunaan beragam media, seperti kerjasama dengan radio lokal di Jakarta, media luar ruang, dan tampil di pameran. "Kita gelar promosi juga, misalnya di Harbolnas 2018 kita berikan free ongkir selama seminggu," ungkap David.

Untuk jenis barang yang bisa diantar, David menyebutkan, barang apa saja bisa dikirim kecuali yang membahayakan keselamatan jiwa.

Baca: Startup Jasa Antaran Barang Lalamove Indonesia Kini Sediakan Armada Van dan City Car

Untuk klien yang mengirimkan barang antaran tertentu yang berisiko rusak pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan asuransi, dengan biaya premi asuransi ditanggung customer. 

"Kita kenakan tarif antaran fix flat rate ke konsumen agar mereka para pebisnis seperti usaha F&B (pebisnis makanan dan minuman) seperti usaha katering, mudah membuat perhitungan cost produk dari komponen biaya pengiriman barang," jelas David.

Vokume antaran barang dengan menggunakan mobil berjenis MPV atau city car maksimal 175x100x85 cm dengan berat maksimal 350 kg. Sementara, untuk barang antaran dengan menggunakan armada van maksimal 600 kg dengan volume barang maksimal 210x150x120 cm. Sementara untuk kiriman menggunakan motor maksimal 20 kg dan lebar kiriman tak melebihi lebar setang motor.  

Lalamove beroperasi pertama kali di Hongkong sejak 5 tahun lalu. David menilai Indonesia pasar paling menantang diantara negara di Asia lainnya karena potensinya yang sangat besar tapi tingkat kompetisinya juga sudah sangat ketat dengan pasar yang sekarang dikuasai oleh dua pemain, yakni Gojek dan Grab,

"Indonesia ini pasarnya paling berat karena kami harus bersaing dengan perusahaan lokal yang sudah besar. Tapi kue pasar masih cukup besar," ujarnya yakin.
 

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Choirul Arifin
  Loading comments...

Baca Juga

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas