Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Bonceng Soroti Kebijakan Aplikator yang Berlakukan Tarif Murah Ojek Online Berbungkus Promo

Bonceng, pelaku industri ride-hailing, mengakui perang tarif ojek online yang dibungkus promo cukup meresahkan.

Bonceng Soroti Kebijakan Aplikator yang Berlakukan Tarif Murah Ojek Online Berbungkus Promo
Alex Suban/Alex Suban
Calon penumpang dan pengendara Ojek Online menunggu di Halte Grab Meeting Point di sisi Mal FX di Jalan Pintu Satu, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (30/8/2018). Di halte ini penumpang yang tidak memiliki aplikasi juga dapat memesan ojek melalui alat yang tersedia. Namun halte semacam ini hanya terdapat saat Asian Games 2018 berlangsung. (Warta Kota/Alex Suban) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bonceng, pelaku industri ride-hailing, mengakui perang tarif ojek online yang dibungkus promo cukup meresahkan.

“Tarif promo besar-besaran pada dasarnya tidak baik untuk mendewasakan pasar. User (konsumen) dimanjakan dengan harga murah sehingga ke depan tidak bagus. Ini akan menjadi predatory pricing yang dampaknya saling membunuh,” kata CEO Bonceng Faiz Noval, Jumat (17/05/2019).

Dia mengharapkan terciptanya iklim bisnis yang sehat sehingga peluang berkompetisi dan bertumbuh dalam jangka panjang semakin terbuka.

Maraknya tarif promo ojek online yang diterapkan Grab, sambung Faiz,  sama saja memicu persaingan tidak sehat di bisnis transportasi online.

Atas dasar itu, dia mendorong pemerintah membatasi tarif promo yang dilakukan oleh aplikator.

Baca: KPPU Temukan Dua Alat Bukti Dugaan Grab Berlaku Diskriminatif terhadap Mitra Driver

Sebagai regulator, campur tangan pemerintah diperlukan untuk membuat ketetapan tarif ojek online melalui Permenhub 12/2019 tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

“Pemerintah mesti melihat ini dari sisi aturan. Tarif promo dilakukan untuk membatasi tarif promo pada minimal angka yang telah ditentukan oleh pemerintah. Kalau tidak maka aturan tarif tidak dapat berjalan,” urai Faiz.

Dia menilai perang tarif promo secara besar-besaran merupakan ambisi untuk mendominasi pasar. Bila tak segera diatur, maka muncul kekhawatiran akan menciptakan monopoli pasar.

“Pastinya akan saling mematikan. Kalau kompetitor semuanya mati maka hanya akan ada satu pemain yang menguasai pasar sehingga harga tidak bisa dikontrol,” pungkas Faiz.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Fajar Anjungroso
  Loading comments...

Baca Juga

berita POPULER
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas