Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Teror Gas Geracun Sarin Jepang 22 Tahun Lalu Masih Diperingati di Tokyo

Akibatnya 13 orang meninggal dan 6300 orang cedera serta banyak yang dirawat di rumah sakit dengan serius saat itu.

Teror Gas Geracun Sarin Jepang 22 Tahun Lalu Masih Diperingati di Tokyo
Richard Susilo
Peringatan 22 Tahun Teror Sarin di Kasumigaseki Tokyo 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tepat 22 tahun lalu, 20 Maret 1995 pagi terjadi teror gas beracun Sarin di sekitar Kasumigaseki Tokyo dan Tribunnews.com nyaris cedera saat menjalankan tugasnya saat itu.

"Saya masih ingat terus dan merasa sangat prihatin serta sedih bagi para korban gas Sarin ini yang dilakukan teroris dari cult keagamaan Aum tersebut. Saya masih mengikuti kasus ini dan menantikan hasil nyata hukuman bagi para pelaku teror tersebut," papar Shige Takahashi (70) yang membawa karangan bunga ke tempat peringatan di stasiun kereta api bawah tanah kasumigaseki Senin pagi tadi (20/3/2017).

Kelompok Aum Shinrikyo, cult keagamaan, aliran kepercayaan yang sesat ini, 221 tahun lalu menyebarkan gas beracun Sarin di jalur kereta api bawah tanah sekitar Hibiya, Kasumigaseki dan Tsukiji (Hibiya Line dan Marunouchi Line).

Akibatnya 13 orang meninggal dan 6300 orang cedera serta banyak yang dirawat di rumah sakit dengan serius saat itu.

Sementara satu pelaku teroris tersebut, Katsuya Takahashi (58), yang sempat kabur selama 17 tahun akhirnya ditangkap dan masih dalam persidangan hingga saat ini.

Banyak orang teler, pingsan, mual muntah setelah terkena gas Sarin tersebut di sepanjang platform kereta api bawah tanah tersebut 22 tahun lalu.

Pihak kepolisian dan pemadam kebakaran, tim khusus anti teroris Jepang langsung memblokir lokasi kejadian dan mengamankan serta membantu mengirimkan para korban ke rumah sakit terdekat.

Akibat kasus teror ini sedikitnya 10 tahun tempat sampah di Jepang menjadi hilang, tidak tampak. Kini sudah mulai tampak lagi tetapi tetap sangat sedikit jumlahnya dan di lokasi tertentu agar mudah dimonitor semua pihak dengan mudah.

Kasus Aum ini masih terus dikenang oleh banyak orang termasuk Tribunnews.com yang mengalaminya sendiri kejadian tersebut saat ingin meliput berbagai acara di daerah kasumigaseki, lokasi pusat pemerintahan Jepang.

Kepala stasiun kereta api bawah tanah dan puluhan pegawainya jam 8 pagi tadi melakukan upacara hening sejenak, berdoa, dalam acara perayaan kasus teror tersebut dan membuka meja umum untuk peletakan karangan bunga dukacita atas kasus yang telah berlangsung 22 tahun lalu itu.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas