Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Tiga Generasi Pembuat Batik Jepang Tetap Pertahankan Motif Jepang Biru

Ternyata memang tidak mudah, sedikitnya enam kali mencelupkan bahan kain katun kita supaya memperoleh warna yang baik.

Tiga Generasi Pembuat Batik Jepang Tetap Pertahankan Motif Jepang Biru
Richard Susilo
Umitaka Kagawa (70), CEO Awayuzen Kojo Co.Ltd., pembuat batik Jepang warna biru yang terkenal di perfektur Tokushima Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Batik Jepang biru atau Aizome memang memiliki pesona mistis biru yang menawan ciri khasnya Jepang.

Satu keluarga di perfektur Tokushima telah melakukan Aizome sekitar 110 tahun lalu dan kini dipegang CEO nya oleh generasi ketiga bernama Umitaka Kagawa (70).

"Keluarga saya dari dulu memang melakukan aizome tersebut dan melebarkan sayap sampai membuat bahan aizome bagi kimono dan bahkan ada bahan kain yang telah keluarga kami buat beserta desainnya yang kami simpan sejak 400 tahun lalu," papar Umitaka Kagawa (70), CEO Awayuzen Kojo Co.Ltd., pembuat batik Jepang warna biruaizome, khusus kepada Tribunnews.com kemarin (19/3/2017).

Tribunnews.com juga diberikan kesempatan membuat aizome tersebut di pabriknya di Tokushima.

Ternyata memang tidak mudah, sedikitnya enam kali mencelupkan bahan kain katun kita supaya memperoleh warna yang baik.

Tiap kali pencelupan sedikitnya satu menit tetapi juga tak boleh berlama-lama karena akan mengubah struktur warna menjadi kurang baik, tekannya.

Setelah pencelupan, kain kita peras hingga kering, di anginkan sejenak, lalu dicelupkan lagi ke dalam zat warna alamiah yang diperoleh dari bahan tumbuh-tumbuhan.

"Di sini sama sekali tak ada bahan kimia sehingga aman dan tak berbahaya. Pembuangan air celupan itu pun juga bisa dilakukan dengan baik dan mudah," paparnya.

Tentu saja sebelum pencelupan, kain katun yang kita akan pakai dibuatkan desain tertentu atau dikareti sehingga nantinya setelah dicelup akan membentuk corak atau pola tersendiri sesuai pembentukan penjepitan kain dengan karet gelang tersebut.

Seusai pencelupan enam kali sedikitnya, kembali diperas hingga kering, lalu dicuci di air bersih dan dikeringkan serta di anginkan kembali hingga kering, disetrika dan siap digunakan sesuai keperluan kita.

Saat ini diakuinya penjualan memang tidak mudah, tetapi tetap saja ada yang membelinya dari dalam negeri Jepang karena memang memiliki ciri khas bahan, desain dan kualitas yang telah dikenal rakyat Jepang produknya tersebut.

Bukan hanya kain celupan saja yang diproduksinya, tetapi berbagai produk telah diversifikasi macam-macam seperti produk berbagai Pakaian, T-shirt, pakaian kerja biarawan, Scarf, saputangan, dasi, tas, peralatan rumah tangga dengan desain dan warna ciri khas perusahaan ini, permadani aizome dan sebagainya, termasuk benda-benda untuk oleh-oleh para turis.

Hasil usaha sehingga sudah mencapai tiga generasi ini memang tidak mudah, tetapi segala turun naiknya berhasil dilalui dengan baik, menurutnya.

Tinggal penurunan jumlah penduduk dan kelangsungan keluarga saja yang tampaknya akan menjadi keprihatinan bisnis aizome di Jepang. Apabila tak punya anak, maka habislah usaha tersebut tampaknya karena tak ada lagi penerusnya.

  Loading comments...
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas