Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Harga Kain Batik Lebih Murah Dijual di Jepang Dibanding di Indonesia

Kaoru Tozu (57) mengungkapkan keheranannya harga batik di Indonesia sangat mahal sekali dibandingkan di Jepang

Harga Kain Batik Lebih Murah Dijual di Jepang Dibanding di Indonesia
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Kaoru Tozu pemilik kedai batik yang berpameran di depan Keio Gallery (bijitsu slaon) Keio Departement Store Lantai 6 Shinjuku Tokyo. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang pecinta dan penjual batik Indonesia warga Jepang, Kaoru Tozu (57) mengungkapkan keheranannya harga batik di Indonesia sangat mahal sekali dibandingkan di Jepang.

"Harga batik di Jepang bisa setengah dari harga di Indonesia saat ini. Lihat saja batik Indonesia ini kita jual setengah dari harga di Indonesia," kata Kaoru menunjukkan batik kuno antiknya yang berharga sekitar Rp 13 juta kepada Tribunnews.com, Kamis (7/12/2017).

Menurutnya, saat ini Indonesia sedang mengalami ekonomi gelembung (bubble) sehingga banyak harga-harga jadi mahal termasuk batik dan kain tradisional Indonesia.

"Harga batik yang antik dan kuno bisa dua kali dari harga batik yang dijual di Jepang. Artinya harga batik di Indonesia sudah sangat mahal saat ini," tambahnya.

Baca: Dituntut Denda Rp 1 Miliar, Andi Narogong Berharap Divonis Tidak Lebih dari Rp 200 Juta

Kaoru yang berpameran sejak kemarin sampai dengan Rabu 13 Desember 2017 itu menampilkan berbagai kain batik Indonesia yang baru dan yang kuno dengan harga sekitar Rp 13 juta.

Banyak orang Jepang menyukai batik Indonesia, menurut Kaoru tergantung orangnya, muda atau tua dan sebagainya.

"Pada umumnya orang Jepang mencintai batik Indonesia dan tergantung selera masing-masing mengenai warna model dan sebagainya. Tetapi pada dasarnya orang Jepang suka warna soft, tak mau mentereng," kata Kaoru yang mulai jatuh cinta kepada batik saat berusia 23 tahun.

Bahkan skripsinya saat menyelesaikan universitasnya mengenai batik dan dosennya kurang begitu paham batik tetapi mendukung skripsinya.

"Saya buat penelitian batik bahkan sampai ke Indonesia, lalu saya buat skripsinya dan persembahkan kepada dosen saya dan lulus," kata dia.

Menurut Kaoru, walaupun dosennya tak mengerti mengenai batik, tetapi menerima hasil penelitiannya mengenai batik dan dianggap sebagai penambah pengetahuan dosen itu.

Komunitas Batik Indonesia dapat bergabung di: https://groups.yahoo.com/neo/groups/batik-indonesia/info

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas