Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Bagaimana Memahami Kejahatan Seksual Siber dan Jika Telanjur Jadi Korbannya?

Apa yang harus dilakukan jika terlanjur menjadi korban dari kejahatan seksual siber? Ikuti opini Nadya Karima Melati.

Dua bola matanya menatap penulis, dengan telepon genggam di tangan, dia tidak bisa berhenti melihat layar sesekali. Sesekali dia menggigit bibirnya saat berbicara. Dia bilang dia ketakutan dan hidupnya tidak lagi aman. S, 19 tahun usianya, ia datang kepada saya di suatu hari Senin siang, katanya seseorang tak dikenal muncul di internet dan meneror dia di semua media sosialnya.

Orang tidak dikenal ini mengatakan dia mempunyai foto S tanpa busana dan akan menyebarkan foto S pada keluarganya apabila S tidak mau melakukan panggilan video via Skype sembari telanjang malam ini. S langsung meradang, ia tidak ingin ada masalah lebih banyak dan ia menuruti keinginan pelaku. Ternyata pelaku tidak berhenti, seminggu kemudian pelaku ingin S datang ke sebuah pusat perbelanjaan bersama adiknya dan melakukan seks dengan dia, jika tidak, semua percakapan video telanjang dan foto-foto telanjang S akan diunggah ke internet. Sejak saat itu hidup S tidak lagi nyaman, dia menutup semua sosial medianya, ketakutan dan menghindar dari teman-temannya.

Lain lagi yang dialami sebut saja X, semenjak video seksnya tersebar oleh mantan pacarnya. Hidup X hancur seketika, dia dikeluarkan dari pekerjaannya, videonya menjadi buah bibir nasional. Namanya santer dikumandangkan pria-pria bejat yang menyebarkan video tersebut penuh suka cita.

Beberapa pria mengancam akan menyebarkan lebih luas apabila dia tidak mau melakukan hubungan seks dengannya. Sepanjang viral video seks, X telah diperkosa beramai-ramai oleh warganet. Namanya meledak, wajahnya mengisi meme lelucon perkosaan.

Kasus S dan X bukanlah satu-satunya. Dalam diskusi pada 24 Maret 2018 lalu bersama Support Group and Resource Center on Sexuality Studies, SGRC menemukan banyak remaja dan dewasa muda usia 14-25 tahun pernah mengalami kejahatan seksual siber. Kejahatan siber sediri adalah hal yang cukup baru dan berkembang bersamaan dengan kemajuan teknologi dan komunikasi. Kejahatan siber dapat menyerang personal, kepemilikan properti dari organisasi atau korporasi dan bisa juga kejahatan siber yang menyerang pemerintahan. Dalam tulisan ini, penulis fokus untuk membahas kejahatan siber yang menyerang personal khususnya identitas perempuan dan minoritas seksual dan gender.

Komnas Perempuan juga telah membuat kategori kejahatan seksual siber sebagai salah satu kasus kekerasan seksual pada Catatan Akhir Tahun 2017. Ancaman penyebaran foto, atau penyebaran video atau berpura-pura menjadi seseorang adalah bentuk-bentuk dari kejahatan seksual siber. Teknologi dan internet telah memperluas ranah perempuan dan minoritas seksual yang rentan untuk mengalami kekerasan seksual. Dan menyedihkannya, untuk kasus-kasus kejahatan seksual siber di Indonesia tidak ada penanganan hukum yang bisa berpihak kepada korban. Tulisan ini bertujuan untuk membahas jenis-jenis kekerasan seksual siber yang terjadi dan apa yang bisa dilakukan apabila kamu atau orang yang kamu kenal menjadi korbannya.

Jenis- jenis Kekerasan berbasis Siber

Dua kasus yang disebutkan di atas adalah contoh dari berbagai jenis kekerasan berbasis siber yang terjadi berdasarkan kasus-kasus yang pernah ditangani baik oleh SGRC maupun lembaga layanan yang lain.

Komnas Perempuan mencatatat, kekerasan berbasis siber ada 65 kasus menimpa perempuan di tahun 2017 dan dilakukan oleh orang terdekat seperti pacar, mantan pacar bahkan suami korban sendiri. Sedangkan SGRC menekankan bahwa kekerasan berbasis siber menyerang secara seksual dan bukan pada perempuan khususnya tetapi pada keperempuanan. Sehingga, minoritas seksual gay ataupun waria bisa juga menjadi korban dari jenis kejahatan ini. Riska Carolina, MH, ahli hukum persekusi di Indonesia dari SGRC menyatakan ada sepuluh bentuk kekerasan berbasis siber yang dapat terjadi pada siapa saja, yakni:

1. Doxing

Doxing adalah perilaku mengambil data pribadi sesorang tanpa izin kemudian mempublikasikan tanpa seizin pemilik data tersebut. Paling mudah doxing dilakukan melalui sosial media karena kita sering kali mempublikasi konten sosial media seperti facebook atau Instagram. tapi tidak jarang juga dilakukan dengan proses hacking. Berdasarkan kriteria ini, akun @budesumiyati yang viral di Instagram dan Twitter adalah contoh dari tindakan ini. Neti Herawati, pemilik foto-foto dari akun @budesumiyati dalam wawancaranya bersama HitamPutih, menyatakan tidak mengenal dan tidak tahu menahu soal fotonya yang digunakan oleh akun tersebut. Pelaku doxing akun @budesumiyati memberi pengakuan bahwa Bude Sumiyati adalah karakter fiksi yang membutuhkan visualisasi, foto-foto Neti Herawati diambil tanpa seizin pemiliknya. Seperti yang terjadi pada Neti, ia memaafkan pelaku walaupun ia juga tidak mengenal siapa pelaku tetapi selama foto-fotonya digunakan untuk hal yang positif dan tidak bernuansa seksual, ia tidak masalah.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas