Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version
BBC

Saham Asia anjlok setelah kerugian besar di Wall Street

Saham-saham Asia turun drastis karena munculnya kekhawatiran terkait dengan tingkat suku bunga Amerika Serikat yang lebih tinggi dan perang

Saham-saham Asia turun drastis karena munculnya kekhawatiran terkait dengan tingkat suku bunga Amerika Serikat yang lebih tinggi dan perang dagang AS melawan Cina. Kedua hal ini telah membuat para investor untuk melakukan aksi jual.

Pasar di Asia mengikuti kecenderungan saham di AS, yang mengalami penurunan paling tajam dalam beberapa bulan ini pada hari Rabu (10/10).

Di akhir sesi perdagangan di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 3,9% ditutup pada tingkat 22.590,86.

Shanghai Composite Cina kehilangan lebih dari 5%, sementara Hang Seng Hong Kong turun 3,5% pada akhir perdagangan.

Bank Sentral Amerika (The Fed) menaikkan tingkat suku bunga pada bulan September karena kuatnya pertumbuhan ekonomi dan mengisyaratkan akan meningkatkannya kembali sebelum akhir tahun.

saham, asia, nikkei
BBC

Tingkat suku bunga yang lebih tinggi membuat peminjaman lebih mahal, memperlambat kegiatan ekonomi dan membuat para investor tidak ingin mengambil risiko.

Perang dagang yang dipimpin AS melawan Cina juga membuat para penanam modal mencemaskan pertumbuhan dunia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh CIna sengaja memanipulasi mata uang untuk mendapatkan keuntungan dari sektor perdagangan, klaim yang selalu disanggah Beijing.

Di tempat lain, indeks Kospi Korea Selatan kehilangan 4,4% ditutup pada 2.129,67 dan S&P/ASX 200 Australia kehilangan 2,7% mengakhiri perdagangan pada kisaran 5.883,8.

nilai saham
BBC

Trump menyerang Fed yang 'menggila'

Pergerakan saham AS lebih baik dari perkiraan di tahun ini. Pasar berbalik arah setelah terguncang pada permulaan tahun, sehingga mencatat rekor baru pada pertengahan tahun ini.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: BBC Indonesia
BBC
  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas