Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Senator Partai Republik Sebut Intel AS Punya Bukti Arab Saudi Terlibat Pembunuhan Jurnalis

Ancaman itu ia tegaskan jika penyelidikan resmi Amerika Serikat (AS) menunjukkan bukti bahwa mereka terlibat dalam pembunuhan Jurnalis Arab Saudi.

Senator Partai Republik Sebut Intel AS Punya Bukti Arab Saudi Terlibat Pembunuhan Jurnalis
Al Jazeera
Jamal Khashoggi, Jurnalis The Washington Post asal Arab Saudi yang menghilang sejak 2 Oktober 2018. 

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Senator Partai Republik Lindsey Graham mengatakan dirinya akan mencari sanksi ekonomi yang bersifat 'menghukum' untuk Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman dan pejabat lainnya di kerajaan itu.

Ancaman itu ia tegaskan jika penyelidikan resmi Amerika Serikat (AS) menunjukkan bukti bahwa mereka terlibat dalam pembunuhan Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi.

Graham menyampaikan kepada Al Jazerra pada Kamis kemarin bahwa dirinya telah membaca dokumen intelijen AS yang menunjukkan adanya keterlibatan pemerintah Saudi dalam kasus menghilangnya pria tersebut.

"Saya sudah melihat (hasil penyelidikan) intel, itu sangat mengerikan, anda tidak harus menjadi seorang Sherlock Holmes untuk mengetahui hal ini," kata Graham.

Baca: Jokowi Bahas Ekonomi Digital di Hari Keempat Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia

Sementara itu Wakil Seketaris Juru Bicara Negara Robert Palladino mengatakan pada Rabu lalu saat dirinya tidak memiliki banyak komentar untuk menanggapi intelijen AS.

"Saya katakan secara pasti bahwa AS tidak memiliki pengetahuan tentang hilangnya Jamal Khashoggi,".

Tanggapan itu muncul sehari setelah The Washington Post, kantor berita AS yang selama ini kolom-kolomnya ditulis oleh Khashoggi, melaporkan bahwa intelijen AS telah menyadap komunikasi dari para pejabat di Saudi yang berencana menculik wartawan dan kritikus.

Dikutip dari laman Al Jazeera, Jumat (12/10/2018), Jamal Khashoggi telah menghabiskan tahun terakhirnya di AS.

Ia tinggal dalam pengasingannya, setelah melarikan diri dari Arab Saudi saat penindasan dilakukan terhadap para pengkritisi kerajaan Saudi.

Khashoggi kemudian dikabarkan menghilang pada 2 Oktober lalu, setelah memasuki Konsulat Arab Saudi di Turki untuk mendapatkan surat-surat yang ia perlukan untuk menikah.

Menurut sejumlah media, mengutip dari sumber-sumber Turki yang tidak disebutkan namanya, kepolisian Turki meyakini bahwa Jurnalis itu tewas di dalam fasilitas diplomatik tersebut.

Arab Saudi pun membantah dan mempertahankan argumennya bahwa Khashoggi telah meninggalkan konsulat sebelum akhirnya dilaporkan menghilang.

Graham menegaskan, jika Arab Saudi terlibat maka AS harus mengambil sikap tegas.

"Mereka menempatkan kami di tempat yang buruk, mereka harus membayar mahal karena saya tidak ingin ada yang bingung tentang bagaimana perasaan kami terkait hal-hal seperti ini," tegas Graham.

"Jika ternyata orang ini dibunuh atau dianiaya oleh pemerintah Saudi, kita akan mengharapkan hal-hal seperti yang dilakukan terhadap (Presiden Rusia) Vladimir Putin dilakukan pula terhadap Arab Saudi, jadi semua yang kita lakukan untuk Putin, saya ingin lakukan untuk Saudi,".

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Hasanudin Aco
  Loading comments...

Baca Juga

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas