Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Hubungan Indonesia-Cina: Titik Sensitif Pemimpin Mendatang

Pelaksanaan pemilu serentak di Indonesia hanya tinggal dalam hitungan jam. Siapa pun yang memenangkan suara terbanyak nanti diperkirakan…

Menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang terbesar di Asia dan termasuk di antara negara mitra dagang terpenting bagi Indonesia, tidak lantas membuat Cina populer di antara orang berhaluan konservatif di Indonesia.

Sejumlah proyek yang menggandeng investasi besar dari Cina pun disoroti dan menjadi kontroversi.

Proyek kereta api cepat senilai 5,9 miliar dolar AS yang menggandeng China Develompent Bank misalnya. Proyek ini banyak dikritik dan dinilai mubazir karena dianggap banyak alternatif transportasi massal lain yang lebih murah untuk menghubungkan kedua kota ini. Presiden pun dinilai terlalu lunak dalam menghadapi investor dari negara tirai bambu tersebut.

Kemitraan kuat di bidang ekonomi ini tidak melulu membuat nama Cina harum di mata publik Indonesia.

Prasangka dan diskriminasi

Kerja sama ekonomi yang sering diberitakan oleh sejumlah media di Indonesia adalah mengenai kian membesarnya ketimpangan neraca perdagangan antara Indonesia-Cina serta isu serbuan para pekerja dari negara itu ke berbagai daerah di Indonesia yang akan merebut kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal.

Prasangka terhadap etnis Cina memang mengakar jauh sejak jaman kolonialisme. Namun di masa Orde Baru prasangka ini memasuki fase baru terkait meletusnya peristiwa G30S/PKI.

Pada kurun waktu tahun 1960-an terjadi beberapa kerusuhan dengan korban dari etnis Cina karena dianggap mendukung komunisme, salah satunya yaitu peristiwa Mangkuk Merah di Kalimantan Barat.

Setelah Suharto berkuasa, pemerintah Orde Baru kemudian merepresi besar-besaran masyarakat dengan latar belakang etnis Cina. Segala hal yang berbau Cina seperti tulisan, nama orang dan perayaan kebudayaan dilarang dirayakan.

Orang-orang dengan latar belakang etnis Cina pun tidak bisa berkarir di bidang pemerintahan dan politik.

Sebagai akibatnya, banyak dari mereka kemudian memutuskan untuk berdagang dan pada akhirnya dituduh menciptakan kesenjangan ekonomi yang memicu kerusuhan rasial.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas