Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version
BBC

Kekeringan Korea Utara: Terburuk selama hampir 40 tahun dan rakyat diserukan "berperang" melawan gagal panen

Korea Utara menyatakan tengah mengalami kekeringan terburuk selama 37 tahun dan telah menyeru kepada rakyatnya untuk "berperang" melawan gagal

Korea Utara menyatakan tengah mengalami kekeringan terburuk selama 37 tahun dan telah menyeru kepada rakyatnya untuk "berperang" melawan gagal panen.

Media pemerintah Korut, KCNA, melaporkan curah hujan setinggi 54,4 mm jatuh di seantero negri dalam lima bulan pertama tahun ini. Angka itu adalah yang terendah sejak 1982.

Harian terbesar Korut, Rodong Sinmun, menyebut "air diperlukan sekarang" dan negara tersebut "berjuang keras" mencegah kerusakan yang ditimbulkan kekeringan.

"Para pekerja di sektor pertanian…bahu-membahu guna melindungi lahan pertanian secara menyeluruh dari kerusakan musim kering," sebut harian itu.

Pemaparan tersebut mengemuka sebulan setelah badan Program Pangan Dunia (WFP) dan Organisasi Pertanian dan Pangan (FAO) mengeluarkan laporan bahwa hasil panen Korut pada 2018 menyentuh taraf terendah sejak 2008.

Laporan menekankan bahwa sebanyak 10 juta orang, yang mencapai 40% dari populasi, "memerlukan bantuan pangan yang mendesak".

Sepanjang tahun ini, menurut laporan tersebut, warga Korut bertahan hidup dengan mengonsumsi 300 gram makanan setiap hari.

Jika tidak akan tindakan yang ditempuh, laporan itu menyebut "situasinya bisa bertambah parah selama musim kering pada Mei hingga September".

Seberapa besar imbas sanksi-sanksi terhadap Korut?

Rangkaian sanksi terhadap Korut ditingkatkan sejak 2006 agar Pyongyang semakin sulit mencari dana untuk program nuklir.

Imbasnya, sanksi-sanksi tersebut telah mengurangi ekspor Korut secara signifikan. Belum jelas berapa banyak mata uang asing yang dimiliki pemerintah Korut untuk mengimpor makanan.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: BBC Indonesia
BBC
  Loading comments...
berita POPULER
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas