Tribunnews.com

Stres Akibat Rambut Rontok dan Nyaris Kehilangan Payudara

Selasa, 17 Juli 2012 10:40 WIB
Stres Akibat Rambut Rontok dan Nyaris Kehilangan Payudara
TRIBUNNEWS.COM/ AGUNG BUDI SANTOSO
Treadmil alias jogging di tempat jadi ritual pagi Rima Melati. Ini adalah bagian gaya hidup sehatnya setelah bebas kanker payudara dan usus akibat merokok di masa lalu. 

Tak berlebihan kalau Rima Melati jadi icon (simbol) sukses melawan rokok setelah sekian lama kecanduan batang tembakau itu. Ia pantas pula jadi icon semangat tinggi bangkit dari keterpurukan setelah divonis kanker usus dan kanker payudara akibat rokok. Bagaimana liku kisah sang aktris senior ini terbebas dari kanker?

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA

SUATU pagi di akhir tahun 1989, Rima Melati sedang duduk termenung di teras rumahnya yang asri di kawasan Tanah Kusir II No 7 C Jakarta Selatan.

Hembusan segar udara pagi dan rerimbunan pohon di teras rumahnya tak mampu mengusir kegalauan hatinya.

Ia menyisir rambutnya dan seolah menghitung sudah berapa helai rontok ke lantai. Cukup banyak yang berguguran, isyarat ada yang tak beres dengan kesehatan badannya. Sesaat kemudian, ia memegangi payudara sebelah kirinya yang bengkak dan terasa ngilu sekali.

"Ya Tuhan, beri hamba solusi agar tak kehilangan payudara kiriku ini," ujar artis lawas bernama asli Marjolien Tambajong. Tanpa sadar buliran-buliran air mata berlinangan di pipinya.

Frans Tumbuan, sang suami tercinta, kemudian memeluknya dengan hangat, sembari menghibur. "Sudahlah, Ma. Jangan larut dalam kesedihan. Jalani saja operasi dengan tabah. Nanti indah pada waktunya," hibur Frans. Namun Rima Melati tetap menangis, sesenggukan.

Tak lama kemudian, telepon di rumahnya berdering. Begitu diangkat, suara di seberang telepon bilang, "Ibu Rima, hari ini perbanyak istirahat karena besok harus siap jalani operasi."

Itu adalah suara dari Prof Dr Syamsul Hidayat, salah satu tim dokter dari Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta yang esok hari akan melakukan bedah operasi pengangkatan kanker payudara milik bintang film "Tinggal Landas Buat Kekasih" itu.

Mendengar suara sang dokter, tangis Rima Melati tambah menjadi-jadi. Badannya gemetar, gugup membayangkan operasi bedah.

Ia memukul-mukul meja ruang di tamu, sebagai pelampiasan kesedihannya. Terbayang di benak aktris berusaha 72 tahun itu kalau dirinya akan kehilangan simbol terindah bagian tubuh wanita yakni payudara.

"Suamiku, apa tidak ada cara lain selain operasi? Aku nggak mau kehilangan payudaraku," keluh Rima Melati, seolah berkonsultasi dengan sang suami di sampingnya.

Frans tak bisa berbuat banyak kecuali hanya menghibur. "Dokter lebih paham yang terbaik buat Mama. Jalani saja dengan tulus. Bagaimana pun dirimu setelah operasi, aku tetap mencintaimu, sayang, " hibur Frans.

Pertanyaan terhadap sang suami itu lalu dia arahkan ke dokter yang masih berada di ujung telepon.

Namun Rima Melati mendapat jawaban bahwa kehilangan payudara sebelah kiri adalah konsekuensi dari pengangkatan kanker yang bersarang di dalamnya. "Apalagi kankernya sudah menjalar ke syaraf ketiak. Jadi, ibu yang ikhlas saja," tutur Dr Syamsul Hidayat.

Kini Rima hanya bisa pasrah. Ia menyadari kalau nyawanya lebih penting ketimbang payudaranya. Apalagi rambut rontok dari kepalanya semakin banyak, isyarat kanker semakin menjalar. Ia hanya bisa pasrah dan menyesali masa lalunya yang kecanduan rokok.

Kisah trauma Rima Melati akibat rokok barangkali bisa jadi pelajaran bagi Kaum Hawa lain di Indonesia, betapa bahaya batang tembakau yang mengandung bejibun racun, terutama nikotin itu.

Apalagi menurut Abdillah Ahsan, MSE, peneliti dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, jumlah perokok wanita mengalami trend gila-gilaan.

Secara total, pada tahun 1995, jumlah perokok aktif secara nasional mencapai 34,7 juta orang. 12 tahun kemudian, tepatnya 2007, angka ini meroket 88 persen menjadi 65,2 juta orang. Dari angka itu, jumlah perokok di kalangan perempuan mencapai 1,1 juta orang (tahun 1995) dan meroket menjadi 4,8 juta orang (2007).

"Kalau tidak dikendalikan, bisa jadi muncul korban-korban baru akibat rokok di kalangan perempuan, seperti kisah masa lalu Rima Melati," kata Abdillah Ahsan, dalam workshop "Suara Korban Rokok" yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, belum lama ini.

Kekhawatiran munculnya "Rima Melati" baru dalam daftar korban korban di kalangan perempuan juga muncul dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007.

Menurut Riskesdas, jumlah perokok remaja perempuan (usia 15-19 tahun) pada tahun 2007 saja meroket lima kali lipat (dibanding 1995) menjadi 167.832 orang di seluruh Indonesia. Tahun 1995, waktu itu jumlah perokok remaja perempuan 'hanya' 30.019 orang.

Celakanya, minimal ada satu perokok di dalam 57 persen rumahtangga di Indonesia. Dari jumlah itu, 91,8 persen merokok di rumah. Selain itu, menurut Menaldi Rasmin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, lebih dari 43 juta anak Indonesia serumah dengan perokok dan terpapar asap tembakau.

"Jangankan yang dulunya aktif merokok seperti Rima Melati, yang perokok pasif pun juga tak kalah berisiko terkena macam-macam penyakit, apalagi serumah dengan perokok," ujar Menaldi Rasmin.

Mendadak Batalkan Operasi Demi Selamatkan Payudara

Di tengah kegalauan Rima Melati menghadapi operasi kanker payudara di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta, tiba-tiba datang para sahabat dekatnya.

Para sahabat tidak hanya menghiburnya tapi juga menyarankan Aktris Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 1973 itu agar segera membatalkan jadwal operasi kanker payudara.

"Batalkan saja, demi keselamatan payudaramu, " kata seorang sahabat, seperti ditirukan Rima. Sang sahabat lantas memberikan info kalau di Belanda ada sebuah klinik yang punya teknologi mengangkat kanker tanpa harus memotong payudara.

Rima masih teringat namanya Klinik Denhoed, milik dokter Daniel Denhoed.
Mendengar info dari sahabat, Frans Tumbuan, sang suami tercinta langsung mendesak Rima untuk bersedia membatalkan operasi.

Rima juga langsung setuju. Dan saat itu juga, Frans mengontak RS Sumber Waras, menyatakan dengan berat hati membatalkan operasi yang sedianya digelar esok harinya.

Tanpa pikir panjang, selang beberapa hari kemudian, Rima didampingi Frans terbang ke Belanda. Setelah melalui serangkaian proses pemeriksaan, Dr Daniel Denhoed menyepakati digelarnya "Breast Saving Operation" (mengoperasi kanker dari payudara tanpa merusaknya).

Menjelang operasi, artis yang pernah jadi personel grup vokal Baby Dolls (tahun 1960-an) itu merasakan sakit di bagian ketiak kirinya. Kanker merusak jaringan syaraf di titik ketiak kirinya.

"Bantu saya dengan doa, " kata Dokter Daniel Denhoed, sesaat sebelum memimpin operasi bedah. Singkat cerita, operasi berjalan sukses. Kanker bisa diangkat, dan payudara Rima bisa diselamatkan. Tapi akibat pengangkatan kanker, payudara Rima sebelah kiri ukurannya lebih kecil dibanding yang kanan.

"Tuhan, maafkan saya, betapa nakalnya saya selama ini. Sudah merokok, minum-minum lagi. Saya berjanji tak mengulangi, " gumam Rima, isyarat pertobatannya kepada Tuhan. Frans Tumbuan memeluk erat dan mencium keningnya. "Papa bangga sama semangat hidupmu, Ma," bisiknya.

Tak lama setelah menjalani operasi, Rima Melati dibawa keluar ruangan bedah menuju kamar rawat inap untuk beristirahat.

Tapi saat keluar dari ruangan bedah, ia kaget melihat sederet karangan bunga yang berjajar rapi di lorong klinik. Cukup banyak. Pengirim karangan bunga kebanyakan dari warga negara Indonesia yang berkarir di negeri kincir angin tersebut.

 "Semoga cepat sembuh, Ibu Rima," bunyi salah satu karangan bunga. Tim dokter pun saling menoleh dan berbisik, "Memangnya siapa sih, Rima Melati?" Dari seorang perawat yang berdarah Indonesia, tim dokter memperoleh info kalau sang pasien 'bukan orang sembarang.' Mereka baru menyadari kalau Rima Melati sangat terkenal di Indonesia sebagai aktris, penyanyi dan model papan atas.

"Dukungan dari banyak orang, membuat semangat saya melawan kanker makin kuat," tutur Rima Melati saat mengisahkan cerita masa lalunya itu kepada Tribunnews di rumahnya yang asri di kawasan Tanah Kusir II No 7 C Jakarta Selatan.

Frans Tumbuan yang sempat mendampingi Rima meladeni wawancara menuturkan, ia pun pernah merokok di masa lalu. Tapi demi kecintaannya terhadap Rima, Frans ikut berhenti total mengonsumsi batang tembakau.

Bahkan Frans kini juga membantu Rima aktif berkampanye anti rokok di berbagai organisasi seperti di Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), Yayasan Indonesia Tanpa Tembakau (YITT) dan Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ) itu. "Ya iyalah, saya nggak akan pernah siap kehilangan dia (Rima Melati), " celetuknya sembari melirik istri.

Kini setelah terbebas dari kanker, artis kelahiran Tondano, Sulawesi Utara, 22 Agustus 1939, itu dengan senang hati menceritakan pengalaman trauma merokoknya ke banyak orang dalam berbagai acara seminar dan penyuluhan kanker.

(Agung Budi Santoso/Bagian ketiga/Bersambung)

Berita terkait

Klik berita dengan topik dan narasumber serupa di koran digital TRIBUN JAKARTA

Rajin Ngomeli-omeli Anak kalau Berani Kebal-kebul Rokok

Jangan Merokok di Rumah Rima Melati, Pasti Diusir! -

© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved