Tribun Kesehatan
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Wabah Difteri

Perlu Anda Ketahui Apa Itu penyakit Difteri, Gejala dan Pencegahannya

Penyakit Difteri telah mewabah, Kementerian Kesehatan bahkan menetapkan Kejadian Luar Biasa.

Perlu Anda Ketahui Apa Itu penyakit Difteri, Gejala dan Pencegahannya
TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
Seorang murid ketakutan ketika petugas medis memberikan suntikan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) di SDN Bawakaraeng 3, jl Gunung bawakaraeng, Makassar, Sulsel, Rabu (15/10). Kegiatan imunisasi itu merupakan bagian dari program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) guna memberikan perlindungan bagi anak-anak usia sekolah dasar terhadap penyakit campak, difteri dan tetanus. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR 

Sedangkan kasus konfirmasi apabila terdapat tanda serta gejala gangguan saluran napas atas hasil kultur swab tenggorok dan epidemiologi,” terangnya.

Menurutnya, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 1501/ MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu, apabila ditemukan satu kasus difteri klinis, dapat dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan seyogyanya segera diumumkan secara resmi oleh pemerintah setempat.

“Munculnya kasus difteri di sejumlah wilayah menunjukkan masih rendahnya imunitas. Yang penyebabnya bisa diakibatkan karena belum mendapat imunisasi atau imunogenisitas setelah pemberian imunisasi tidak mencapai kadar proteksi,” paparnya.

Untuk itu, lanjutnya, perlu dilakukan imunisasi pada seluruh anak prasekolah yaitu dengan mendapatkan 4 dosis DTP, anak sekolah mendapatkan Td pada saat awal dan akhir sekolah, serta diharapkan pula orang dewasa mendapatkan booster Td tiap 10 tahun.

“IDAI akan membantu untuk bersama-sama mempersiapkan outbreak response immunization (ORI) termasuk pula mempersiapkan akan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang mungkin dapat terjadi dan memengaruhi target cakupan di tiap daerah tersebut,” tutupnya

 

Kasus di Jateng
Dua balita di Jawa Tengah ditemukan positif difteri. Seorang balita di Semarang pada September lalu, dan seorang balita di Karanganyar pada Oktober 2017 lalu. Keduanya telah dirawat di rumah sakit dan sembuh.

"Keduanya sudah pulang dari perawatan di RSU dalam keadaan sembuh, dan sampai saat ini belum ada kasus lagi," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, dr Yulianto Prabowo, Rabu (6/12/2017).

Ia mengungkapkan, awalnya terdapat 11 penderita penyakit sejenis, namun setelah diperiksa ternyata hanya dua orang, selebihnya bukan difteri.

Menurut Yulianto, para penderita difteri itu dikarenakan dahulu mereka tidak diimunisasi, sehingga terjangkit virus penyakit tersebut.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas