Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Kopi Liberika Meranti, Inovasi Desa Kedaburapat di Lahan Gambut

Di Indonesia, kopi melimpah ruah dan setiap daerah memiliki karakternya masing-masing.

Kopi Liberika Meranti, Inovasi Desa Kedaburapat di Lahan Gambut
ISTIMEWA
Kepala Desa Kedaburapat, Mahadi mengatakan, untuk menunjang aktivitas ekonomi petani kopi Liberika Meranti, dana desa yang diterima Desa Kedaburapat dimanfaatkan untuk memperbaiki jalan usaha tani. 

TRIBUNNEWS.COM, RIAU - Siapa yang tak tahu dan tak menyukai kopi? Minuman yang identik dengan warna hitam itu sudah pasti dikenal banyak orang di penjuru dunia. Di Indonesia, kopi melimpah ruah dan setiap daerah memiliki karakternya masing-masing.

Di tanah Sumatera, kopi yang kita kenal mungkin Kopi Gayo dan Kopi Lampung.Namun, di salah satu desa di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, terdapat kopi unik yang tak kalah dari dua contoh kopi di atas.

Liberika Meranti demikian nama kopi unik yang ada di Desa Kedaburapat, Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Disebut unik karena Kopi Liberika Meranti memiliki beberapa ciri khas khusus seperti buah kopinya memiliki ukuran yang lebih besar daripada buah kopi arabika maupun robusta. Hal ini karena kulit buah kopinya sangat tebal, sehingga tidak dapat diproses secara manual.    

Ketebalan kulit kopi ini membuat kopi liberika tahan disimpan dalam jangka waktu yang lama. Kopi liberika juga memiliki kandungan kafein yang lebih rendah daripada jenis kopi lainnya serta aman untuk lambung.

Satu keunikan kopi yang hampir tidak ada di jenis kopi lain adalah kemampuannya  tumbuh di  tanah gambut yang sangat sulit ditanami.

Dalam sekali panen, bisa mencapai 100 kg, dengan kisaran harga jual kopi besarannya Rp2.500/kg. Setiap petani bisa mendapat Rp 250 ribu per 20 hari.
Dalam sekali panen, bisa mencapai 100 kg, dengan kisaran harga jual kopi besarannya Rp2.500/kg. Setiap petani bisa mendapat Rp 250 ribu per 20 hari. (dok. Kompas.com)

Namun, justru di Desa Kedaburapat yang  tanahnya ber gambut itulah, kopi unik tersebut berhasil dibudidayakan. Tak salah kalau kemudian Pemerintah Desa dan Masyarakat Desa Kedaburapat terus berinovasi untuk mengembangkan penanaman kopi Liberika Meranti ini.

Al-Hakim, salah satu petani kopi  Liberika Meranti, mengatakan kopi tersebut berbeda dengan kopi arabika atau robusta, yang notabenenya tumbuh di dataran tinggi.

"Biji kopi Liberika Meranti ini dapat tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian hanya 1 meter di atas permukaan laut. Padahal tanah gambut ini memiliki tingkat keasaman yang tinggi, namun kopi Liberika justru tumbuh dan sukses  ditanam di lahan ini" kata Hakim saat ditemui di Desa Kedabu Rapat, Riau, Rabu (9/4/2019).

Dengan kemampuannya tumbuh di tanah gambut menurut Hakim membuat Kopi liberika kini menjadi produk unggulan Desa Kedaburapat, selain juga ada pinang dan kelapa.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Content Writer
  Loading comments...

Baca Juga

berita POPULER
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas