Tribun Kesehatan
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Menelusuri Asal Usul Kopi Arabica Gayo Aceh

Kopi di setiap daerah di Indonesia memiliki rasa khas. Salah satunya kopi Arabica Gayo yang berasal dari Aceh.

Menelusuri Asal Usul Kopi Arabica Gayo Aceh

Indonesia memiliki banyak jenis kopi yang tersebar di seluruh daerah. Kopi di setiap daerah memiliki rasa khas. Salah satunya kopi Arabica Gayo yang berasal dari Aceh.

Arabica Gayo merupakan salah satu varietas kopi terbaik dunia. Mulai dari aroma hingga cita rasanya yang luar biasa, telah diakui oleh penikmat kopi tak hanya di negeri sendiri, namun juga hingga ke luar negeri.

Kopi jenis Arabica dibudidayakan di wilayah dataran tinggi Tanah Gayo, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues. Kopi Arabica agak besar dan berwarna hijau gelap, daunnya berbentuk oval, dengan tinggi pohon mencapai tujuh meter. Namun di perkebunan kopi, tinggi pohon ini dijaga agar berkisar 2-3 meter. Tujuannya agar mudah saat dipanen. Pohon kopi Arabica mulai memproduksi buah pertamanya dalam tiga tahun. Lazimnya dahan tumbuh dari batang dengan panjang sekitar 15 sentimeter. Dedaunan yang diatas lebih muda warnanya karena sinar matahari, sedangkan dibawahnya lebih gelap. Tiap batang menampung 10-15 rangkaian bunga kecil yang akan menjadi buah kopi.

Lalu, dari mana asal usul kopi di daratan tinggi Gayo?

Legenda kopi dalam catatan sejarah mengemukakan kopi ditemukan oleh Sheikh Omar, seorang tabib yang memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit. Karena kelebihan yang dimilikinya, Sheik diasingkan ke sebuah gua padang pasir dekat Ousab. Dia lalu mencari makanan dari tumbuhan-tumbuhan liar yang tumbuh sekitar gua, dan menemukan pohon berbiji merah dan mengunyahnya. Namun, rasanya pahit tidak seperti warnanya yang merah dan terkesan manis.

Lantaran penasaran, Sheik mencoba memanggang biji tersebut dan menjadi keras. Masih penasaran, dia kemudian mengambil biji yang terpanggang keras berwarna hitam, melunakkan dengan mendidihkannya ke dalam air panas. Ternyata, setelah melunak biji dan kopi menyatu menjadi cairan coklet berwarna harum.

Setelah meminumnya, Sheikh merasakan sensasi dan pengaruh yang berbeda. Ramuan biji kopi yang telah direbus tersebut juga sanggup menyembuhkan penyakit misterius Putri Raja Mochas.

Tumbuhan kopi ini tersebar di Indonesia pertama kali oleh orang Belanda di abad 17 yang mendapatkan biji Arabica Mocca dari Arab Saudi, kemudian dibawa ke Batavia yang saat ini adalah Jakarta. Pertama kalinya kopi Arabica tersebut ditanam serta dikembangkan di wilayah Jatinegara, Jakarta yang saat ini sudah dikenal masyarakat luas sebagai Pondok Kopi.

Penyebaran selanjutnya sampai di kawasan dataran tinggi Gayo serta di kabupaten Aceh Tengah. Kekuasaan Belanda yang hadir pada tahun 1904 di Tanah Gayo sekaligus memberikan kehidupan baru yaitu dengan membuka lahan perkebunan kebun kopi yang terdapat di tanah Gayo di ketinggian 1000 – 1700 meter dari permukaan laut.

Pada tahun 1925 hingga 1930, sejarah baru mulai dibuka yaitu adanya kebun kopi di lingkungan masyarakat. Pembukaan kebun kopi tersebut dilakukan oleh para petani yang kebetulan bertetangga dengan kebun Belanda tersebut. Hingga pada tahun 1930 terdapat empat kampung yang sudah berdiri di sekitar kebun Belanda tersebut yang kini terletak di Belang Gele yaitu Kampung Belang Gele, Paya Sawi, Atu Gajah dan juga Pantan Peseng.

Terdapat bukti arkeologis berupa sisa pabrik pengeringan kopi yang sudah ada pada masa kolonial Belanda di Aceh Tengah yaitu tepatnya di desa Wih Porak kecamatan Silih Nara. Hal itu menjelaskan bahwa kopi pada masa tersebut sudah menjadi komoditas perekonomian yang sangat penting.

Kini, kopi Arabica Gayo sudah menjadi mata pencaharian yang paling pokok oleh sebagain besar masyarakat Gayo. Bahkan, sudah menjadi satu-satunya sentra tanaman kopi yang sangat berkualitas di daerah Aceh Tengah.

Salah satu perusahaan di Indonesia yang mengolah kopi Arabica Gayo adalah Tiara Farm. Perusahaan ini mengolah di Desa Umah Besi, Kecamatan Timang gajah, Kabupaten Bener Meriah, Gayo – Aceh. Tiara Farm menanam kopi di lahan seluas 20 hektar (ha) pada posisi di atas 1.000 meter dari permukaan laut, lalu diproses secara modern dan higienis sehingga dapat dipastikan terbebas dari bakteri dan jamur.

Tiara Farm menawarkan kopi Arabica Gayo dalam bentuk kopi hijau atau green coffee yang bisa didapatkan dengan harga @ Rp 140.000. Selain Green Coffee, Tiara Farm juga menawarkan kopi hitam Arabica Gayo yang diolah melalui proses roasting yang tepat, sehingga hanya berasa asam di ujung lidah (sesuai ciri khas kopi Arabica Gayo) dan nyaman di lambung. Untuk kopi hitam, bisa diperoleh dengan harga Rp 80.000. Produk juga telah tersertifikasi Halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan nomor registrasi 17120036141217. Kopi Tiara Farm dapat diperoleh di All Fresh, Century Healthcare, Family Mart, Kem Chicks, Natural Farm, AEON Supermarket, Foodhall, Apotik dan Toko Obat. (*)

  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas