Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Bunuh Diri

Trauma, Anak Pria Bunuh Diri Live di Facebook Butuh Pendampingan Psikologis

Secara lingkungan, kejadian tersebut juga memberikan luka batin bagi keluarga

Trauma, Anak Pria Bunuh Diri Live di Facebook Butuh Pendampingan Psikologis
Tribunnews.com/Fahdi Fahlevi
Hujan rintik-rintik mengiringi pemakaman jenazah Pahinggar Indrawan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (18/3/2017) sekitar pukul 13.00 WIB. TRIBUNNEWS.COM/FAHDI FAHLEVI 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- AAZ (14), anak perempuan dari Pahinggar Indrawan (35), yang menyaksikan langsung ayahnya bunuh diri memerlukan pendampingan secara psikologis karena mengalami trauma.

Psikolog Klinis dan Forensik, Kasandra Putranto mengatakan, kejadian yang menimpa keluarga Pahinggar pasti meninggalkan trauma yang mendalam. Terutama anaknya, AAZ, yang menyaksikan langsung Pahinggar gantung diri.

"Karena itu, penting sekali untuk anak-anak dan istrinya mendapatkan pendampingan psikologis," ujar Kasandra saat dihubungi Minggu (19/3/2017).

Genetis dari AAZ merupakan bagian dari Pahinggar. Secara lingkungan, kejadian tersebut juga memberikan luka batin bagi keluarga. Pendampingan psikologis dirasa perlu untuk meminimalkan dampak-dampak dari luka batin tersebut.

"Bisa diminimalkan melalui sesi pendampingan psikologis," ujar Kasandra.

Pasalnya, hingga saat ini, belum diketahui adanya pendampingan terhadap AAZ atau tidak, setelah kejadian yang menimpa ayahnya.

Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Jagakarsa, Inspektur Satu Sofyan Suri mengatakan, setelah AAZ menyaksikan ayahnya bunuh diri, AAZ langsung berlari menghampiri Ketua Rukun Tetangga setempat.

"Anaknya kan' yang lihat langsung kan'. Terus manggil ke Pak RT, 'Pak RT ke rumah (Pahinggar) Pak RT'. Nunjukkin lah ke Pak RT kalau bapaknya sudah gantung diri," ujar Sofyan Suri saat dihubungi Minggu (17/3/2017).

Sofyan menjelaskan, AAZ trauma, dan langsung menangis begitu melihat ayahnya gantung diri.

"Pasti (trauma). Anaknya juga nangis semua. Pas saya ke TKP istrinya juga nangis. Saya juga tidak minta data dari dia, kasihan juga," ujar Sofyan.

Sebelumnya, Pahinggar yang berprofesi sebagai sopir mengabadikan bunuh dirinya dengan ponsel dan sempat menyampaikan pesan terakhir sebelum mengakhiri hidupnya. Rekaman itu beredar luas secara viral di Facebook.

Pahinggar menggunakan ponsel genggam yang ditaruh di hadapannya. Kemudian, dia mengikatkan tali berwarna biru ke kayu yang berada di atap rumah.

Polisi menemukan barang bukti tali tambang berwarna biru, serta satu unit ponsel genggam yang digunakan untuk menyiarkan secara langsung di Facebook. Polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

  Loading comments...
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas