Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Menyedihkan, Begini Jawaban Balita GW Saat Masih Hidup, Ketika Luka Ditubuhnya Ketika Ditanya Guru

Melihat luka-luka yang diderita GW, membuat sejumlah guru di sekolah bertanya-tanya, dan GW sering menjawab jatuh

Menyedihkan, Begini Jawaban Balita GW Saat Masih Hidup, Ketika Luka Ditubuhnya Ketika Ditanya Guru
WARTA KOTA/PANJI BHASKARA RAMADHAN
Balita laki-laki berinisial GW diduga dianiaya hingga tewas oleh ibu kandungnya sendiri, yakni Novi Wanti (25), di sebuah kontrakan di Jalan Asem Raya No 1, RT 06/08, Duri Kepa, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (11/11/2017). 

Laporan Wartawan Warta Kota Panji Baskhara Ramadhan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --  Novi Wanti (26), ibu yang menganiaya anaknya sendiri GW (5) hingga tewas, kerap dipanggil oleh pihak sekolah di mana GW bersekolah.

Pihak sekolah seringkali menemukan kejanggalan di tubuh GW saat masuk sekolah.

Luka cakaran, hingga luka lebam yang diderita GW saat itu, membuat pihak sekolah GW di wilayah Jakarta Barat ini, seringkali memanggil sang ibu.

"Jadi, guru-guru di sekolah ini miris sekali mas melihat GW ya. Karena guru-guru sekolah yang di sini seringkali melihat GW ini kesakitan. Ada guru lihat punggung GW dipenuhi luka cakaran dan lebam-lebam. Wajahnya anak ini bengkak-bengkak, benjolan di kepala. Lukanya banyak," kata Merry selaku Kepala Sekolah yang enggan sebutkan nama sekolah dan yayasannya, pada Senin (13/11/2017).

Melihat luka-luka yang diderita GW, membuat sejumlah guru di sekolah bertanya-tanya, dan GW sering menjawab "Luka jatuh".

"Guru suruh buka baju, ternyata penuh cakar. Setiap ditanya kenapa, pasti alasannya jatuh terus yang terakhir itu ditutupin lukanya pakai baju lengan panjang," ujarnya.

Namun kata Merry, GW tidak pernah mengeluh kepada guru mengenai kondisinya.

"Kami coba panggil orangtuanya, tapi tidak ada respon yang baik. Bahkan pernah selama dua hari GW minta makan karena memang saat itu dia lapar. Ternyata tidak dikasih makan ibunya selama dua hari. Jujur kami sulit menghubungi orangtuanya," jelasnya.

Selain luka-luka yang diderita, prilalu GW lama kelamaan berubah.

Pasalnya, bocah laki-laki di sekolah setiap hari periang sebelum tragedi penganiayaan dialaminya.

"Pernah dianya (GW) itu tidak masuk selama seminggu dengan alasan pergi ke Bangka ya Kepulauan Riau. Itu ibunya juga yang bilang. Tetapi ketika ditanya mengenai kondisi sang anaknya, sering menghindar. Dulu anaknya itu ceria, periang, semenjak kami temukan luka-luka ditubuhnya di saat itu lah anak tersebut ya seringkali murung dan takut pulang," katanya.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas