Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Kelompok Mitra Pengemudi Tuding Aplikator Terapkan Tarif Predator

Kelompok mitra pengemudi ojek daring menuding perusahaan penyedia aplikasi (aplikator) banyak menerapkan sistem tarif predator

Kelompok Mitra Pengemudi Tuding Aplikator Terapkan Tarif Predator
warta kota
Sejumlah ojek online menunggu pesanan di jalur pejalan kaki di Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (12/10/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kelompok mitra pengemudi ojek daring menuding perusahaan penyedia aplikasi (aplikator) banyak menerapkan sistem tarif predator.

"Kami melihat tarif terlalu rendah dan promo terlalu banyak dari aplikator. Ini kan tindakan 'predatory pricing' dan bisa mematikan angkutan alternatif lain," kata Presidium Gerakan Aksi Roda Dua (GARDA) Igun Wicaksana kepada pers di Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Igun memberikan contoh, salah satu promo yang paling fantastis adalah penerapan ongkos Rp 1 yang dilakukan oleh Grab.

Oleh karena itu, dia menilai penerapan harga terlalu rendah dari salah satu aplikator, dalam hal ini Grab, membuat iklim bisnis menjadi tidak sehat.

Ongkos yang terlalu murah, menurutnya untuk konsumen akan memicu perang tarif, yang akhirnya lebih banyak merugikan mitra pengemudi.

"Perang tarif bisa membuat tarif terus menukik lebih tajam. Akhirnya yang dikorbankan adalah pengemudi, karena dipaksa kerja lebih ekstra," ujar Igun.

Selama ini, Igun melanjutkan, mitra pengemudi Grab Bike terpaksa harus menempuh kilometer lebih jauh, dan jam kerja lebih lama untuk mendapatkan penghasilan harian yang memadai. Akibatnya, berdampak pada penurunan kualitas pelayanan, keselamatan, dan keamanan para mitra pengemudi.

"Faktor ini menyebabkan tingginya kemungkinan kecelakaan karena kelelahan dan akhirnya juga berdampak pada pengguna," ujarnya.

Heru Sutadi, pengamat transportasi dari Information Communication Technology (ICT) Institute, sependapat dengan Igun. Menurutnya, mitra pengemudi akan merasa dieksploitasi dengan penerapan harga yang terlampau murah.

"Pengemudi kan juga manusia. Jadi, aspek-aspek ekonomi dan pendapatan perlu perhatian serius. Sebab, ada pihak yang merasa mendapatkan perlakuan tidak adil secara bisnis, yakni para pengemudi," tuturnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Sanusi
Sumber: Warta Kota
  Loading comments...

Baca Juga

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas