Tribunnews.com

JK: Konflik Rohingnya Bukan Konflik Agama

Kamis, 16 Agustus 2012 16:56 WIB
JK: Konflik Rohingnya Bukan Konflik Agama
Ist
Ketua Umum PMI Jusuf Kalla 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla mengungkapkan konflik Rohingnya, Myanmar tidaklah seberat Konflik Poso-Ambon.

“Poso-Ambon lebih berat, masing-masing pegang senjata. Ribuan orang yang tewas. Kalau di Rohingya tidak ada yang pegang senjata. Yang tewas juga 80-an,” ungkap mantan Wakil Presiden ini kepada wartawan saat dihubungi, Jakarta, Kamis (16/8/2012).

Lebih lanjut, JK juga menegaskan bahwa konflik Rohingnya tidaklah konflik antar agama. Melainkan konflik antar dua etnis.

“Masalahnya lebih kepada etnis, bukan agama. Muslim di Myanmar ada lebih dari 2,5juta orang dan itu baik-baik saja. Mereka tidak berkonflik dengan umat agama lain. Yang konflik hanya etnis Rohingya itu, memang mereka muslim,” jelas dia.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, PMI menjadi lembaga pertama dari Indonesia yang berhasil memasuki Myanmar. Presiden Myanmar mempersilakan JK dan rombongan melihat langsung kondisi yang terjadi di Provinsi Rakhine.

"Sabtu besok, silakan meninjau ke Rakhine," ujar Sein dalam pertemuannya dengan JK di Istana Kepresidenan Myanmar di Nay Pyi Taw.

Pemerintah Myanmar mengapresiasi upaya Ketua umum PMI dalam membantu menyelesaikan konflik Rohingya. JK tiba di Myanmar Jumat (10/8/2012), dan diterima Presiden Myanmar.

Saat pertemuan tersebut terungkap, pemerintah Myanmar menyesalkan adanya pemberitaan yang mengatakan terjadi konflik etnis yang berujung pada konflik agama. Menurut mereka, pertikaian terjadi akibat aksi kriminal yang terjadi di dalam masyarakat yang berujung pada konflik komunal.

"Karena itu kita mengingatkan kepada pemerintah Myanmar untuk segera menyelesaikan konflik komunal ini sebelum mengarah ke konflik agama," kata Jusuf Kalla usai pertemuan itu.

Kalla menyebutkan, selama ini simpang siur pemberitaan konflik ini terjadi akibat adanya anggapan pemerintah Myanmar yang belum terbuka. Masyarakat internasional kemudian menjadi salah tafsir atas apa yang terjadi di provinsi tersebut.

"Karena itu, Presiden Myanmar meminta kita untuk melihat langsung apa yang terjadi di sana. Rencananya besok kita akan pergi ke Sitwee salah satu kota di Rakhine. Dan kita merupakan salah satu rombongan pertama yang diperbolehkan masuk ke sana," ujar JK.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Rachmat Hidayat
0 Komentar

Silahkan login untuk memberikan komentar
Terkini
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved