Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Penyidik KPK Diteror

Soal Biaya Pengobatan Novel di Singapura, KPK Enggan Tak Mengiba ke Pemerintah

satu kali tindakan dokter untuk Novel menghabiskan biaya sebesar 30 sampai 40 ribu dollar Singapura atau sekitar Rp 400 juta.

Soal Biaya Pengobatan Novel di Singapura, KPK Enggan Tak Mengiba ke Pemerintah
Repro/KompasTV
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan dibawa dengan menggunakan kursi roda saat akan diterbangkan ke Singapura dari RS Jakarta Eye Center (JEC), Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/4/2017). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Glery Lazuardi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua KPK, Laode M. Syarif, mengungkapkan alasan mengapa meminta bantuan pemerintah untuk biaya pengobatan penyidik KPK, Novel Baswedan.

Salah satu alasan karena asuransi dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tak mampu membantu biaya karena sudah melebihi batas maksimal.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, satu kali tindakan dokter untuk Novel menghabiskan biaya sebesar 30 sampai 40 ribu dollar Singapura atau sekitar Rp 400 juta.

"Asuransi ada limit untuk pengobatan ke luar negeri tak tercover. Ada batas limit, kemarin sudah over limit, BPJS juga sudah bantu, tetapi over limit. Kami minta pemerintah menyiapkan kemungkinan dan alhamdulillah pemerintah menyanggupi," tutur Laode, kepada wartawan, Senin (17/4/2017).

Selain karena total anggaran biaya tak mampu dibiayai dari asuransi dan BPJS, kata dia, permintaan bantuan dana dari pemerintah dilakukan untuk mencegah terjadi penyalahgunaan dana.

"Yang paling kami takutkan kalau dipakai untuk itu. Kalau diluar cover asuransi menjadi temuan BPK. Untuk transparansi, kami minta bantuan pemerintah. Ketika minta bantuan bukan kapasitas pribadi, tetapi kami minta sebagai perwakilan pemerintah yang ingin melihat proses penegakan hukum berjalan," ujarnya.

Berdasarkan keterangan petugas medis kepada Laode, Novel masih membutuhkan perawatan di rumah sakit mata yang berada di Singapura itu selama beberapa minggu.

Sehingga diperkirakan akan mengeluarkan dana yang cukup besar. Oleh karena itu diperlukan bantuan dari pemerintah.

"Biaya itu kan waktu lama karena tak mungkin satu sampai dua hari. Menurut ucapan dokter untuk mengetahui perkembangan akan memakan waktu beberapa minggu. Kami tidak mengiba. Kami minta kepada pemerintah memberikan bantuan," tambahnya.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas