Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

GP Ansor Menggelar ''Ansor Day Festival'' untuk Menjawab Tantangan Generasi Milenial

Acara dimeriahkan juga oleh artis muda ibukota, seperti Dara The Virgin, Tomy Babap, SHYNee K-Pop Dancer, dll.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor menyelenggarakan Ansor Day Festival, yang juga rangkaian kegiatan Hari Lahir ke-83 GP Ansor.

Ansor Day Festival dimaksudkan sebagai tonggak gerakan dakwah Islam Nusantara di perkotaan dan di kalangan generasi milenial.

“Melalui Ansor Day Festival, GP Ansor berusaha semakin hadir dan mendekatkan diri dengan generasi milenial kota,” kata Nuruzzaman, Ketua Panitia Harlah ke-83 Ansor, di sela persiapan acara, Jakarta, Jumat (28/4/2017).

Ansor Day Festival digelar Sabtu (29/04/2017), di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), mulai pukul 09.30 dan terbuka untuk umum alias gratis.

Panitia menghadirkan Keynote Speaker Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, dan pembicara-pembicara yang kompeten di bidangnya, seperti pengamat ekonomi, pengusaha muda, akademisi, dan pengamat radikalisme Indonesia dari generasi milenial.

Acara dimeriahkan juga oleh artis muda ibukota, seperti Dara The Virgin, Tomy Babap, SHYNee K-Pop Dancer, dan artis lainnya.

Menurut Nuruzzaman yang juga salah satu Ketua PP GP Ansor, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki jumlah generasi milenial muslim yang besar pula.

Karakter generasi milenial muslim tersebut tidak jauh berbeda dengan generasi milenial pada umumnya.

Ia mengatakan, ciri dan karakter generasi milenial ada tiga yaitu, pertama, percaya diri (confidence). Mereka ini orang yang sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat dan tidak sungkan-sungkan berdebat di depan publik.

Kedua, kreatif. Generasi ini adalah orang yang biasa berpikir out of the box, kaya akan ide dan gagasan, serta mampu mengkomunikasikan ide dan gagasan tersebut dengan cemerlang.

Ketiga, connected, pandai bersosialisasi terutama dalam komunitas yang mereka ikuti, dan juga aktif berselancar di media sosial dan internet.

“Rasa ingin tahu yang besar untuk belajar agama pada generasi milenial muslim menyebabkan mereka melahap berbagai sumber informasi terkait agama, dan dengan rasa percaya diri yang tinggi mencoba mengartikulasikan pemahaman agama mereka secara kreatif kepada orang lain melalui sosial media,” jelasnya.

Bagi Ansor, lanjut Nuruzzaman, inilah tantangan sekaligus peluang. Yakni bagaimana GP Ansor beradaptasi dengan perubahan dan tren yang terjadi di Indonesia tanpa kehilangan jatidiri sebagai kader GP Ansor dan Nahdlatul Ulama sebagaima kaidah fikih “al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah”, yaitu mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Di sisi lain, sebagai organisasi yang memiliki pandangan bahwa Pancasila adalah final dan NKRI adalah harga mati, tantangan GP Ansor semakin berat.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas