Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pemblokiran Telegram

Macam-macam Obrolan Teroris di Telegram: Dari Jualan Pakaian Dalam, Kafir hingga Ajakan Kawin

Sejak 2015, peneliti Institute for Policy Analysis of Conflict, Navhat Nuraniyah, mengikuti obrolan teroris dalam grup chat tertutup di Telegram.

Macam-macam Obrolan Teroris di Telegram: Dari Jualan Pakaian Dalam, Kafir hingga Ajakan Kawin
IBTimes
Pasukan antiteror di dunia, termasuk di Indonesia menemukan bahwa pendukung ISIS berbagi pesan pada aplikasi bernama Telegram. 

''Yang laki-laki cenderung mengkritik kelompok muslim lain dengan sebutan kafir. Topik personal juga dominan, rekrutmen, propaganda umum, dan diskusi soal agama.''

Asumsi yang beranggapan bahwa ruang chat di Telegram ramai dengan topik merencanakan teror atau membuat bom dibantah oleh Navhat.

''Obrolan lebih mengarah ke topik personal, walau memang diskusi tentang cara membuat bom itu ada.''

''Telegram lebih banyak dipakai buat gosip ketimbang merencanakan teror''.

Adapun, tipe komunikasi yang dipakai di Telegram menurut Navhat ada yang berupa kanal broadcast satu arah, ada grup kecil, ada juga supergrup yang jumlah anggotanya bisa ribuan.

Mengapa Telegram?

Teknologi dan internet sudah lama dipakai oleh kelompok teroris di tanah air, tepatnya mulai zaman Imam Samudera dan bom Bali.

Yang berbeda, di era media sosial sekarang, kini kelompok teroris lebih sering menggunakan Facebook dan Twitter.

''Tetapi mulai 2014, Twitter dan Facebook mulai memblokir ribuan akun yang terkait paham radikal. Laporan Twitter tahun lalu, sudah lebih dari 600 ribu akun diblokir antara 2015 dan 2016. Itu sebabnya mereka (beralih) menggunakan Telegram,'' jelas Navhat.

Selain itu, Navhat mengutip salah satu postingan dalam kanal radikal Telegram, alasan kuat mereka memilih Telegram adalah teknologi enkripsi yang ketat.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas