Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pemblokiran Telegram

Macam-macam Obrolan Teroris di Telegram: Dari Jualan Pakaian Dalam, Kafir hingga Ajakan Kawin

Sejak 2015, peneliti Institute for Policy Analysis of Conflict, Navhat Nuraniyah, mengikuti obrolan teroris dalam grup chat tertutup di Telegram.

Macam-macam Obrolan Teroris di Telegram: Dari Jualan Pakaian Dalam, Kafir hingga Ajakan Kawin
IBTimes
Pasukan antiteror di dunia, termasuk di Indonesia menemukan bahwa pendukung ISIS berbagi pesan pada aplikasi bernama Telegram. 

''Saya mengutip alasan mereka, tentang mengapa mereka menggunakan Telegram, yaitu karena teknologi enkripsinya. Mereka bilang mereka juga lebih percaya kepada Durov bersaudara selaku pemilik Telegram, sebab mereka punya reputasi dan mau tampil membela hak privasi. Mereka berani menolak permintaan pemerintah Rusia, contohnya waktu dimintai data kelompok oposisi Rusia. Ini memberi reputasi anti-pemerintah yang di mata teroris.''

Peta pengguna Telegram di dunia, antara lain Indonesia, Suriah, Irak, dan beberapa tenaga migran di Asia Timur dan kawasan Teluk.

Sedangkan di Indonesia, penggunanya tersebar di seluruh Jawa, Sumatera khususnya Lampung, Riau, dan Padang, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, Ambon, dan Nusa Tenggara.

''Ini menggambarkan sebaran aktual dari kelompok teroris,'' kata Navhat.

Bagaimana percakapan Telegram berubah menjadi radikal?

Navhat merujuk pada pola penggunaan Telegram oleh buruh migran Indonesia di Hong Kong. Ada lebih dari 155 ribu buruh migran yang saat ini bekerja di Hong Kong dan ada sekitar 100 yang teridentifikasi memiliki paham radikal.

Mulanya, buruh-buruh migran tersebut bergabung dengan pengajian offline yang sesungguhnya damai. Kadang mereka tidak puas dengan pengajian atau ustad yang dianggap tidak murni dan lembek, lantaran tidak mendukung muslim di Suriah, Palestina atau tempat yang lain.

Lewat media sosial mereka menebar konten radikal, kemudian membuat jaringan sosial untuk pertemanan. ''Mereka juga terlibat online date dengan pejihad Indonesia dan pejihad lainnya di Suriah, kemudian menikahi mereka lewat video call. Beberapa ke Suriah untuk menemui suami online mereka,'' kata Navhat.

'Bahrun Naim aktif di grup Warung Kopi'

Menurut analisis Navhat, Telegram berubah menjadi platform 'menakutkan' juga akibat perencanaan teror yang dilakukan Bahrun Naim dengan menggunakan Telegram.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas