Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Emir Moeis Ajukan Uji Materiil ke MK terkait Kehadiran Saksi dan Keaslian Dokumen

Politisi senior PDIP Emir Moeis didampingi pengacara kondang Yusril Ihza Mahendra akan mengajukan uji materiil pasal di KUHAP.

Emir Moeis Ajukan Uji Materiil ke MK terkait Kehadiran Saksi dan Keaslian Dokumen
TRIBUN/DANY PERMANA
Terdakwa Emir Moeis (berkemeja merah) menjalani sidang dengan agenda pembacaan putusan di Jakarta, Senin (14/4/2014). Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut divonis 3 tahun penjara dengan denda Rp 150 juta subsider 3 bulan kurungan karena terbukti terlibat kasus suap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tarahan Kabupaten Lampung Selatan. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rizal Bomantama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Politisi senior PDIP Emir Moeis didampingi pengacara kondang Yusril Ihza Mahendra akan mengajukan uji materiil pasal di Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang berkaitan dengan kehadiran saksi dan keaslian dokumen ke Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (14/9/2017).

Emir Moeis kini sedang menjalani hukuman tiga tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider tiga bulan kurungan karena terbukti menyalahgunakan kedudukannya sebagai Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI untuk mengambil keuntungan dalam kasus suap PLTU Tarahan Lampung tahun 2004.

Dalam kasus suap itu Emir Moeis terbukti menerima suap sebesar 357.000 dollar AS dari Alstom Inc Amerika Serikat dan Marubeni Inc Jepang.

Namun Emir Moeis merasakan ketidakadilan lantaran diadili hanya dengan dokumen berupa fotokopi dan ketidakhadiran saksi kunci, yakni konsultan Alstom Inc AS, Pirooz Muhammad Sarafi yang memberinya uang.

Baca: Jasad Membusuk dalam Kondisi Terikat Ternyata Warga Pekanbaru yang Sempat Menghilang

Pirooz Muhammad Sarafi tak pernah sekalipun dihadirkan ke dalam persidangan, sementara dokumen kontrak kerja sama antara Pasific Resources Incorporated (PRI) dengan PT Anugerah Nusantara Utama (ANU) yang dianggap sebagai bukti Emir memenangkan Alstom hanya berupa fotokopi.

"Saat pemeriksaan saksi bernama Juliansyah Putra Zulkarnain, ia mengatakan halaman 1 sampai 5 dari enam halaman dokumen, tandatangan Juliansyah dipalsukan. Juliansyah sudah mengadukan ke Bareskrim Polri dan mereka menyatakan tandatangan yang dibubuhkan memang berbeda," kata Emir.

"Saat diminta Juliansyah ia hanya punya fotokopi yang sudah dilegalisasi KBRI di Washington, saat Bareskrim bertanya kepada KPK pun mereka mengatakan dokumen asli ada di Amerika Serikat. Jadi saya hanya diadili berdasarkan fotokopi dokumen," jelas Emir.

Yang jadi masalah adalah dokumen yang awalnya merupakan kerja sama di bidang batubara namun diubah oleh Pirooz menjadi dokumen pemenangan tender Alstom dalam proyek PLTU Tarahan.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas