Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Isu SARA

Kuasa Hukum Ungkap Tiga Postingan Asma Dewi Sehingga Ditangkap

Dia katakan, ya itulah kalau vaksin atau virus dari Cina, hanya Cina itu saja yang dipersoalkan.

Kuasa Hukum Ungkap Tiga Postingan Asma Dewi Sehingga Ditangkap
Twitter
Asma Dewi Ali Hasjim, tersangka terkait ujaran kebencian yang diduga masih terhubung dengan kelompok penyebar kebecian Saracen dan merupakan bendahara Tamasya Al Maidah pada masa pemilihan Gubernur DKI Jakarta lalu, ditangkap di rumah kakaknya, di Kompleks Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (AKRI), Ampera, Jakarta Selatan, oleh tim dari Direktorat Siber Bareskrim Mabes Polri pada Jumat (8/9/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kuasa hukum Asma Dewi yang juga Direktur Lembaga Bantuan Hukum Bang Japar (Jawara dan Pengacara), Djudju Purwantoro mengungkapkan bahwa polisi menjerat kliennya karena tiga postingan.

Postingan tersebut menurut Djuju rata-rata diposting pada 2016.

Postingan pertama adalah mengenai vaksin virus campak Rubela dari Cina.

"Dia katakan, ya itulah kalau vaksin atau virus dari Cina, hanya Cina itu saja yang dipersoalkan. Cina siapa? Orang golongan kelompok? Ya negara china bukan dari India bukan dari Thailand," kata Djuju kepada wartawan di Masjid Baiturahman, Saharjo, Jakarta Selatan, Kamis (14/9/2017).

Postingan kedua adalah mengenai pernyataan Menteri Pertanian, Aman Sulaiman, tentang mahalnya harga daging dan menyarankan untuk makan jeroan.

"Yang nyatakan bukan bu Asma tapi Menteri Pertanian, 'Kok masyarakat makan jeroan kenapa gak menterinya makan jeroan," ujar Djuju.

Postingan ketiga yang dijadikan bukti penuntutan adalah mengenai tulisan Sanskerta yang diajarkan di Singapura.

"Kenapa di Indonesia diajarkan bahasa Cina, Cina lagi," ungkap Djuju menirukan Asma Dewi.

Djuju mengatakan bahwa postingan tersebut bukan asli disebarkan oleh Asma Dewi. Melainkan dikirim ulang dari postingan orang lain.

"Itukan mengaju pada pernyataan asli, bukan bu asma yang buat itu ada dari pihak lain kemudian menanggapi," ungkap Djuju.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas