Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Isu SARA

Pria Asal Bangil, Pasurun, Ini Ditangkap Polda Jatim Karena Dianggap Hina Jokowi dan Kapolri

Pelakunya bernama Haidar asal Bangil. Ia menggunakan Instagram untuk melakukan pelecehan Presiden dan Kapolri dengan mengobarkan hal berbau SARA.

Pria Asal Bangil, Pasurun, Ini Ditangkap Polda Jatim Karena Dianggap Hina Jokowi dan Kapolri
TRIBUN TIMUR/DARUL AMRI
Komisari Besar Frans Barung Mangera, Kepala Bidang Humas Polda Jatim 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepolisian Daerah Jawa Timurberhasil menangkap pelaku penghina Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jendral Pol Tito Karnavian yang dilakukan di media sosial instagram.

Kepala Bidang Humas Polda Jatim, Komisari Besar Frans Barung Mangera, di Surabaya, Senin mengatakan, penangkapan dilakukan oleh Unit IV Cyber Crime Subdit II Ditreskrimsus Polda Jawa Timur.

Pelakunya bernama Haidar asal Bangil Pasuruan. Ia menggunakan Instagram untuk melakukan pelecehan terhadap Presiden dan Kapolri dengan mengobarkan hal berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan)

"Haidar mengirim foto dan caption yang melecehkan Presiden (sebagai) kepala negara dan Kapolri. Dari laporan masyarakat, tim akhirnya melakukan penelusuran dari akun Instagram haidar_bsa dan polisi akhirnya berhasil menangkap pelaku," kata Barung.

Pelaku, lanjut Barung, aktif menyebar ujaran kebencian sejak Juli 2017. Dari postingan yang diunggah di Instagram, ia antara lain menghina Presiden Jokowi hingga menyamakan Kapolri dengan DN Aidit yang merupakan salah satu tokoh PKI.

Ketika ditanyai oleh Kombes Frans Barung ihwal kebenciannya kepada Presiden, pelaku menjawab hal itu ia lakukan secara spontan.

"Saya lakukan spontan. Gambar saya repost dari grup yang saya ikuti di Instagram. Salah satunya akun liputan rakyat. Untuk caption saya yang buat sendiri," ujar Haidar.

Terkait proses penangkapan pelaku, Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP, Festo Ari Permana, menjelaskan, tersangka Haidar ditangjap berdasarkan informasi dari masyarakat.

Awalnya polisi mengetahui pelaku menyebarkan ujaran kebencian sejak 20 Juli 2017 hingga 24 September 2017.
Tindakan itu, kata Festo Ari, dilakukan tersangka berulang-ulang dalam bentuk mengunggah konten negatif dan ujaran kebencian melalui lnstagram dengan nama akun Haidar_bsa. Jumlah pengikutnya sebanyak 7.078.

"Melalui akun Instagram pribadinya Haidar_bsa memposting meme dengan caption yang bermuatan SARA, menyasar suatu suku, ras, maupun agama tertentu, (juga berisi) penghinaan terhadap presiden dan pejabat negara serta beragam konten hoax," ujarnya.

Baca: Syahrini Akhirnya Akui Dapat Fasilitas VVIP dengan Harga Miring dari First Travel

Baca: Setoran Capai Target, Ditjen Pajak Siaga Satu

Polisi juga menyita barang bukti berupa telepon genggam Iphone 7+ warna hitam yang digunakan pelaku untuk mengunggah konten melalui Instagram serta menyuta satu bendel "screenshot" akun medsos Haidar.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45A ayat (2) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Rl No. 11 Tahun 2008 tentang lnforrnasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 207 dan Pasal 208 KUHP dengan pidana penjara maksimal enam tahun.

Sumber: Antara

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas