Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Perppu Ormas

Ketua MK Arief Hidayat Marah Saat Sidang Terkait Kasus Eggi Sudjana

Kegeraman Arief Hidayat tersebut bermula dari pertanyaan dari kuasa hukum Yayasan Sharia Law

Ketua MK Arief Hidayat Marah Saat Sidang Terkait Kasus Eggi Sudjana
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat memberi sambutan usai pengucapan sumpah Ketua MK terpilih di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Jumat (14/7/2017). Arief Hidayat kembali terpilih menjadi ketua MK periode 2017-2020 secara aklamasi pada rapat pleno pemilihan Ketua MK yang dilakukan secara tertutup. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Arief mencontohkan dirinya yang seringkali menolak permohonan wawancara mengingat apa yang akan dia sampaikan sama dengan pokok perkara.

Topik tersebut kemudian menjadi perdebatan panjang karena karena para pemohon lainnya juga mengungkapkan pendapatnya. Arif mengatakan agar menyerahkan laporan tersebut ditangani penyidik.

Ahmad Khozinudin kemudian mengutarakan pendapatnya yang terakhir.

Khozinudin mengatakan jika para pemohon tidak memperoleh proses yang adil dalam proses persidangan Perpu Ormas.

Pernyataan tidak selesai karena langsung dipotong Arief dan meminta agar menjelaskan kata tidak adil.

"Dalam beberapa yang saya sampai ... yang saya alami, ada beberapa yang kemudian kami tidak bisa menyampaikan secara tuntas, demikian," kata dia.

"Apa yang tidak bisa disampaikan secara tuntas, apa itu? Saudara diberi ... minta untuk mengajukan ahli, untuk saksi. Sampai hari ini mana ahlinya?" kata Arief yang mulai geram.

Ahmad Khozinudin kemudian menjawab bukan terkait ahli. Khozinudin menjawab mengenai pendapat dari para permohon baru saja disuarakan.

"Apa yang dimaksud tidak adil itu? Ini Anda kalau statement juga hati-hati lho, ya. Apa yang dimaksud tidak memperoleh proses keadilan?" kata Arief.

Ahmad Khozinudin kemudian menjawab jika dalam proses tidak memperoleh perlakuan yang adil.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas