Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Banyak Dikritik Netter Soal 'Tuhan tak Perlu Dibela', Ini Jawaban Sujiwo Tejo

Pandangan Sujiwo Tejo soal pembelaan Tuhan ini tampaknya menjadi perbincangan di media sosial.

Banyak Dikritik Netter Soal 'Tuhan tak Perlu Dibela', Ini Jawaban Sujiwo Tejo
Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
Budayawan dan seniman, Sujiwo Tejo menyampaikan deklarasi budaya di kampus Universitas PGRI Semarang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (28/10/2014). Dalam deklarasinya, Sujiwo Tejo menyampaikan perkembangan budaya di era modern. (Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan) 

"Kalau khilafah sebagai sebutan pemimpin, maka tidak apa-apa, tetapi jika khilafah sebagai sebuah gerakan ideologi yang menentang sebuah sistem yang sudah disepakati, yakni Pancasila, maka hal tersebut benar-benar dilarang," ucapnya.

Ia juga menerangkan bahwa oleh orang-orang HTI, khilafah diartikan sebagai suatu ideologi, yang menentang demokrasi, tidak menganggap negara kebangsaan, maunya transnasional (satu negera Islam yang terdiri dari beberapa negara).

Menurut Mahfud MD hal tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa di Indonesia.

4. Penafsiran Ketuhanan Yang Maha Esa

Mahfud MD juga memberikan komentar terkait pernyataan Eggi Sudjana yang mengatakan bahwa negara Indonesia berdasar Ketuhanan Yang Masa Esa, yang tadinya Tuhannya Allah SWT, lalu tidak ada tafsir lain kecuali itu hukum Islam.

Menurut Mahfud MD, penafsiran seperti itu bukan hanya bertentangan dengan gramatiknya, tetapi juga bertentangan dengan fakta historisnya.

Mahfud MD menyatakan bahwa memang benar, dulu disepekati negara berdasarkan Ketuhanan dengan syariat-syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

Hal tersebut kemudian dirubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut Egi Sujana, arti Ketuhanan Yang Maha Esa hanya Allah SWT, namun menurut Mahfud MD, hal tersebut bukanlah arti Pancasila, melainkan arti menurut Ki Bagus Hadi Kusumo.

Ki Bagus Hadi Kusumo menyatakan bagi orang Islam, Tuhannya berarti tauqid, maka dari itu, bagi orang yang bukan Islam, silahkan percaya dengan Tuhannya sendiri.

"Seperti yang dikatakan Bung Karno, kalau kamu Kristen ya silahkan Kristen dengan baik, Hindu, Hindu dengan baik, jadi tidak ada keharusan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa yang bersumber dari piagam Jakarta sebelumnya itu, lalu mau dikatakan kalau negara Indonesia itu harus berdasar hukum Islam, apalagi ini tentang perdebatan hukum Islam apa itu, kadangkala orang tidak mengerti. Saya Khawatir juga, jangan-jangan Pak Egi itu tidak mengerti perbedaan syariah, hukum, fiqih, konon dan sebagainya," ungkap Mahfud MD.

Hingga berita ini diturunkan, video tersebut telah dilihat lebih dari 70 ribu kali dan mendapat 423 komentar.

Sebagian dari mereka membenarkan apa yang diutarakan oleh Mahfud MD.

@gebi pay: Sehat terus mbh mahfud MD. panjang umur, agar isLam tidak disaLah gunakan orang2 yg kueang faham isLam, agar kita yg masih belajar tidak salah jalan. Karna sekarang bnyk bngd islam a b c d dan lainya.

@oqyrandy russel: Bukti Profesor Mahfud sangat netral dengan penjelasan logis, sangat matangndengan keilmuan nya, enak dan mudah dipahami.

@Riza Taufiqur Rohman: abu janda bilang hadist ga bisa dipercaya... kalo saya disana sudah saya ajak kelahi... ngomong nggak pake dasar...itu pak mahfud juga emosi sebenernya ama statement ini.. dia bilang abu janda menuduh di 1:45 lo... kalo ke ustad felix emang masalah distorsi pemahaman yang emang salah.. kalo ke egy saya ga paham bukan orang hukum.

@abdullah syakir: Ini baru imbang jika pak mahfud hadir, debat dengan koh felix dan bang egi,.. datanya ada, ini baru bisa disebut diskusi ilmiah.. ngak asal ngomong kyk si abu janda.

@Diyan Novika: Rasanya gmn ya perasaan abu janda di skak Prof Mahfud ulama NU?? Hehe pdahal slama ni ngaku NU si abu janda.

@Dargombes: Hahahaaa, mak jleb, bung Eggy kena batux. Thank u prof MAHFUD. MD. (*)

  Loading comments...
berita POPULER
© 2017 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas