Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilkada Serentak

Ketua Umum Puja Kessuma: Pilkada 2018 Harus Dimenangkan 'Tunggal Sabahita'

“Dengan memegang teguh falsafah 'tunggal sabahita' atau tunggal sekapal," ungkap Suhendra di Jakarta, Kamis (11/1/2019).

Ketua Umum Puja Kessuma: Pilkada 2018 Harus Dimenangkan 'Tunggal Sabahita'
Ist/Tribunnews.com
Ketua Umum Putra-putri Jawa Kelahiran Sumatera, Sulawesi dan Maluku (Puja Kessuma) Suhendra Hadi Kuntono.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua Umum Putra-putri Jawa Kelahiran Sumatera, Sulawesi dan Maluku (Puja Kessuma) Suhendra Hadi Kuntono menyerukan kepada warga teturunan Jawa yang lahir di Sumatera, Sulawesi dan Maluku, yang tersebar di seantero Nusantara, untuk memenangkan calon gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota yang senasib sepenanggungan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 yang akan digelar serentak di 171 daerah di seluruh Indonesia, Rabu (27/6/2018).

“Dengan memegang teguh falsafah 'tunggal sabahita' atau tunggal sekapal," ungkap Suhendra di Jakarta, Kamis (11/1/2019).

“Tunggal”, jelas Suhendra, ialah satu, dan “sabahita” adalah perahu atau kapal laut, sehingga “tunggal sabahita” berarti kebersamaan dalam satu kapal.

Replika “Bahita” terpahat di relief Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Suhendra lalu merujuk sejarah orang-orang Jawa yang “dibuang” ke Sumatera oleh pemerintah kolonial Belanda secara bergelombang sejak 1880 menggunakan kapal laut untuk kerja paksa.

Di Sumatera, dan kemudian juga di Sulawesi, Maluku dan pulau-pulau lain di Indonesia, bahkan sampai ke Semenanjung Malaya dan Madagaskar, mereka beranak-pinak, dan memiliki ikatan persaudaraan yang tinggi untuk bertahan hidup (survive) di perantauan, dan rasa persaudaraan itu sama seperti saudara kandung yang kemudian diturunkan ke anak-cucu.

“Kita selalu merasa senasib sepenanggungan, ibarat berada di sebuah kapal,” jelas keturunan Jawa kelahiran Medan, Sumatera Utara, 50 tahun lalu ini.

Baca: Ketua Umum Apdesi: Jaga Netralitas Kepala Desa dalam Pilkada 2018

Sebagai bangsa yang hidup di negeri maritim, kata Suhendra, nenek-moyang kita memang dikenal sebagai pelaut ulung. Sebab itu, "sabahita" pun dimaknai sebagai hidup mati bersama, apa pun masalahnya harus dihadapi bersama. Apa pun permasalahan antar-pribadi yang muncul di atas "sabahita", harus diselesaikan di daratan, jangan sampai mengganggu kebersamaan mereka di lautan.

“Pemimpin yang menghayati makna ‘tunggal sabahita’ akan mampu membawa rakyat ke pulau harapan,” cetus Suhendra yang juga mantan Ketua Tim Penyelesaian Pelanggaran HAM Indonesia-Vietnam.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas