Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Bukan Militer, Ini Ancaman 'Zaman Now' Bagi Negara Menurut Wiranto

Wiranto menyatakan bahwa diskusi itu dilaksanakan untuk menyiapkan warga negara termasuk PPI sebagai agen bela negara melawan ancaman

Bukan Militer, Ini Ancaman 'Zaman Now' Bagi Negara Menurut Wiranto
Rizal Bomantama
Menko Polhukam saat menjadi pembicara dalam Forum Koordinasi dan Konsultasi tentang Peran Pemuda dalam Literasi Media Sosial untuk Bela Negara Guna Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, Selasa (13/3/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menko Polhukam Wiranto menjadi 'keynote speaker' dalam diskusi bertajuk Forum Koordinasi dan Konsultasi tentang Peran Pemuda dalam Literasi Media Sosial untuk Bela Negara Guna Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, Selasa (13/3/2018).

Wiranto berbicara di depan puluhan anggota Purna Paskibraka Indonesia (PPI) dalam diskusi dan pelatihan yang digelar Desk Pemantapan Wawasan Kebangsaan Kemenko Polhukam.

Dalam sambutannya Wiranto menyatakan bahwa diskusi itu dilaksanakan untuk menyiapkan warga negara termasuk PPI sebagai agen bela negara melawan ancaman terhadap negara dan kesatuan serta persatuan bangsa 'zaman now'.

Baca: Si Manja Lucu Terdepak, Ini Catatan Juri Soal Marion Jola Sejak Audisi

"Kalau saya dulu waktu masuk Akademi Militer (Akmil) diberi pesan bahwa ancaman terhadap negara adalah agresi, aneksasi, dan invasi dari negara lain. Tapi ancaman terhadap negara zaman sekarang bukanlah militer, sekaya apa pun sebuah negara akan tetap mengeluarkan biaya banyak untuk menyerang negara lain, makanya Amerika Serikat melepaskan Vietnam dan Irak," katanya.

"Saat ini ancaman yang datang kepada negara lebih murah, canggih, dan efektif untuk menghancurkan negara, dimensinya banyak bisa melalui kesehatan, pendidikan, narkoba, radikalisasi, terorisme, dan sekarang ada model 'proxy war' yaitu menghancurkan dengan meminjam tangan orang lain. Ancaman paling berbahaya tak lain adalah melalui media sosial, racuni pikiran padahal hoax dan ujaran kebencian sehingga kita bermusuhan satu sama lain," ungkap Wiranto.

Untuk menghadapi itu Wiranto menegaskan bahwa persatuan dan kesatuan warga sangat dibutuhkan.

Karena menurutnya dengan persatuan dan kesatuan maka bangsa itu akan bisa terus berkembang dan tidak terpecah belah.

"Saya ke Hanoi, Vietnam tahun 1993 masih banyak sepeda, saya kembali tahun 1999 sudah banyak motor, dan sekarang pasti banyak mobil. Karena mereka tidak perang lagi, kalau bersatu akan bisa membangun ekonomi."

"Sebaliknya negara yang tidak bersatu akan amburadul seperti Mesir, Irak, dan Libya serta terakhir Sri Lanka hampir terjadi perang saudara," tegasnya.

Di akhir sambutannya Wiranto menegaskan bahwa saat perang militer maka tentara yang akan menjadi serdadunya.

"Tapi saat perang menghadapi ancaman negara yang seperti itu maka kita semua, semua warga negara adalah serdadunya. Itu lah kenapa kita berkumpul di sini yaitu menyatukan tekad, ilmu, dan pikiran melawan ancaman media sosial," pungkasnya.

Sebelum meninggalkan lokasi Wiranto berkesempatan memukul gong tanda diskusi dan pelatihan dimulai.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas