Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Kasus Terorisme

Perbedaan Teroris di Indonesia Zaman Now dan Teroris di Awal Milenium Menurut Mantan Napiter

Ia mengakui ada pemahaman yang lebih keras dan tidak toleran yang dipegang oleh pelaku teror di Indonesia akhir-akhir ini.

Perbedaan Teroris di Indonesia Zaman Now dan Teroris di Awal Milenium Menurut Mantan Napiter
Tribunnews.com/Rizal Bomantama
Eks narapidana teroris Haris Amir Falah. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Eks narapidana teroris Haris Amir Falah kasus pendanaan latihan militer di Jalin Jantho, Aceh memaparkan kepada Tribunnews.com perbedaan antara aksi terorisme zaman kini dengan tindak pidana terorisme di awal milenium ke-21 di Indonesia yang dimulai dari tragedi Bom Bali I.

Ditemui di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (19/5/2018), Haris menilai dari kasus Bom Bali I hingga kasus yang menjeratnya tahun 2010 para pelaku dimotivasi adanya solidaritas sesama muslim yang dibantai besar-besaran di Palestina.

“Waktu itu kami berpikir ada yang perlu dilakukan ketimbang bicara, kami perlu melakukan persiapan khusus untuk menghadapi kaum kafir yang kami anggap sewenang-wenang, yaitu bangsa yang melakukan pembantaian terhadap warga Palestina.”

“Tapi kami tidak menganggap warga Indonesia yang tidak seagama atau tidak sepaham kami sebagai kafir. Kami tidak mudah mengkafirkan dan toleran dalam kehidupan di Indonesia,” ungkap Haris.

Baca: Lagi Gelar Razia di Jembatan Suramadu, Polisi Sempat Grogi Didekati Perempuan Bercadar Bawa Tas

Oleh karena itu menurutnya teroris di awal zaman awal milenium ke-21 menyasarkan aksi bom bunuh diri di objek simbol barat yang ada di Indonesia seperti Paddy’s Cafe dan Jimbaran di Bali yang menjadi pusat wisatawan mancanegara, Kedubes Australia hingga hotel JW Marriott dan Ritz Carlton.

Haris lalu menjelaskan bahwa ukuran yang sama tidak bisa digunakan untuk menilai ideologi serta tujuan para teroris yang melakukan aksinya akhir-akhir ini seperti yang dilakukan pada aksi teror di Surabaya, Mako Brimob Jawa Barat, Sidoarjo, dan Riau beberapa waktu lalu.

Ia mengakui ada pemahaman yang lebih keras dan tidak toleran yang dipegang oleh pelaku teror di Indonesia akhir-akhir ini.

“Ada perbedaan sifat di masa sekarang yaitu pemahaman khawarij (menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah) serta ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memahami ajaran agama. Yaitu dengan menganggap yang bukan satu agama, bahkan satu agama namun beda aliran sebagai khafir.”

“Kalau sudah seperti itu ada pemahaman bahwa darah dan harta kaum yang tidak sealiran dengan mereka dianggap halal. Itu pemahaman yang masuk ke para teroris akhir-akhir ini,” imbuhnya.

Bahkan secara ekstrim Haris menyebutkan bahwa ada paham di kalangan teroris zaman kini yang menyebut negara Indonesia yang tak sesuai dengan pandangan mereka dianggap bentuk kekhafiran.

“Oleh karena itu serangan mereka sporadis dengan menyasar simbol negara seperti polisi. Ciri mereka juga melakukan segala cara untuk menegakkan ideologinya seperti membom masjid di Cirebon.”

“Kalau masjid saja dibom maka tak heran kalau gereja jadi sasaran mereka. Padahal dalam syariat, tempat ibadah tak menjadi target,” pungkasnya.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Hasanudin Aco
  Loading comments...

Berita Terkait :#Kasus Terorisme

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas