Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Membaca Peluang Capres dari Luar Parpol di Kontestasi Pilpres 2019

Jelang pemilihan presiden tahun 2019, mulai bermunculan sejumlah nama yang digadang akan menjadi capres alternatif di luar Jokowi dan Prabowo Subianto

Membaca Peluang Capres dari Luar Parpol di Kontestasi Pilpres 2019
capture video
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jelang pemilihan presiden tahun 2019, mulai bermunculan sejumlah nama yang digadang akan menjadi capres alternatif di luar Jokowi dan Prabowo Subianto.

Beberapa di antara mereka adalah tokoh yang berasal dari luar partai, mulai Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, Chairul Tanjung, hingga Rizal Ramli.

Namun Pengamat Politik Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing memprediksi kandidat-kandidat presiden dari luar parpol sulit maju menjadi capres ataupun cawapres.

Baca: Korban Tewas Kapal Tenggelam Dievakuasi di RS Jala Ammari TNI AL Makassar

"Kalau elektabilitasnya luar biasa, misalnya di atas 50 persen partai akan mendekati. Tapi kalau elektabilitasnya di bawah, saya kira sangat logis partai tidak mendukung mereka. Partai kan ingin berkuasa, masa mendukung calon yang elektabilitasnya rendah. Itu saja," ujar Emrus dalam pernyataannya, Selasa(12/6/2018).

Menurut Emrus penentuan sebagai calon presiden adalah urusan partai.

Partai yang sentral menentukan. "Calon-calon rendah, masa iya dipaksakan. Sebetulnya yang lebih aman yang elektabilitas 70 persen. Jokowi sendiri belum aman karena belum sampai 50 persen. Banyak swing votter,"ujar Emrus.

Lebih jauh Emrus menjelaskan situasi politik saat ini nampaknya tidak terhindarkan adanya tiga poros.

Alasannya karena komunikasi politik yang dibangun antarpartai belum mengkristal ke dua poros, poros satu atau dua.

Bahkan partai-partai yang saat ini sudah menunjukan indikasi berada di posisi dua poros itu, tidak ada jaminan mereka akan tetap berada di poros itu. Bisa sangat cair.

Karena apa, lanjut Emrus prinsip dasarnya adalah mereka akan mau menyatu ke salah satu kalau kepentingan politik mereka terakomodasi.

"Sepanjang kepentingan politik mereka belum terakomodasi saya pikir mereka akan membuat poros baru. Karena dalam pencalonan Presiden 2019 ini, sebenarnya tidak pas dipakai istilah koalisi. Yang lebih pas dipakai istilah kerja sama politik. Karena poros ini sangat dinamis dan bisa last minute. Karena itulah sangat pragmatis, lebih cocok sebagai kerja sama politik.

Ia memprediksi, pada akhirnya akan muncul poros ketiga. Poros baru ini kata Emrus cenderung akan dinakhodai oleh partai Demokrat, baru kemudian besar kemungkinan merapat PAN.

Karena PAN rekan lama Partai Demokrat, saat Hatta menjabat Ketua Umum. Dan kemudian ada relasi kekeluargaan antara PAN dan Demokrat.

Kemudian besar kemungkinan akan menyatu PKB. "PKB belum definitif mengusung calon. Cak Imin bisa saja maju, dari segi elektabilitas perlu dipoles. Dari Demokrat, kelihatan dari hasil survei, AHY sangat layak ditempatkan di posisi cawapres,"kata Emrus.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas