Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Lebaran 2018

Bagaimana Cara Menentukan Bulan Baru dalam Islam?

Namun dalam Islam, ada dua cara untuk menentukan sudah atau belum masuknya bulan baru

Bagaimana Cara Menentukan Bulan Baru dalam Islam?
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Anggota tim Rukyatul Hilal memantau hilal penetapan jadwal puasa 2018 di Masjid Al Musari'in, Basmol, Jakarta, Selasa (15/5/2018). Kementerian Agama menggelar pemantauan hilal (rukyatul hilal) untuk penetapan 1 Ramadan 1439 H di 95 titik pemantauan yang tersebar di 32 provinsi guna menetukan rukyatul hilal dan data hisab posisi hilal untuk dimusyawarahkan dalam sidang isbat. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ada beberapa cara untuk menentukan kapan masuknya bulan baru.

Namun dalam Islam, ada dua cara untuk menentukan sudah atau belum masuknya bulan baru.

Baca: Tentukan Hari Raya Idul Fitri 1439 H, Kemenag Gelar Sidang Isbat Sore Ini

Seperti yang dikatakan oleh Ustadz Syarif Hidayat, anggota Tim Hisab Rukyat Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta kepada Tribunnews.com, ada dua cara untuk menentukan bulan baru dalam Islam, yakni metode perhitungan atau hisab dan metode rukyat.

Di antara keduanya memang berbeda, namun menurut Ustadz Syarif Hidayat, antara metode hisab dan rukyat itu sebenarnya saling melengkapi.

"Antara hisab dan rukyat tidak ada kontradiksi, justru melengkapi, hisab itu perhitungan secara astronomi sesuai dengan referensi yang ada, sedangkan rukyat itu membuktikan data yang sudah dihisab. Itu dibuktikan di lapangan bener atau tidak," ucapnya saat ditemui di Kantor Kanwil Kemenag, Kamis (14/6/2018).

"Untuk hisab sendiri, saat ini untuk alat hitung yang canggih dari segi hasil, hisab tidak ada perbedaan, yang sekarang itu kalau sudah mengunakan standar yang hakiki atau modern hasilnya tidak ada perbedaan, tinggal nanti kalau ada yang murni hisab atau nanti dikombinasikan dengan rukyat," ia menambahkan.

Di Indonesia, khususnya pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag), metode yang digunakan mengkombinasikan antara metode hisab dengan rukyat. Hal tersebut dilakukan untuk membuktikan perhitungan dengan yang ada di lapangan.

Ustadz Syarif Hidayat menjelaskan, di Kemenag, sesuai dengan kesepakatan negara-negara ASEAN, sepertu Brunei, Malaysia, Singapura, memiliki pola standar minimal ketinggian hilal 2 derajat.

Kemudian jarak antara ijtima konjungsi artinya satu garis bumi bulan dan matahari sampai terbenamnya matahari itu minimal 8 jam.

"Ketika kriteria ini terpenuhi sangat besar kemungkinan hilal bisa terlihat, tetapi bila kriteria ini belum terpenuhi tiga-tiganya atau salah satunya itu sangat sulit untuk hilal terlihat," katanya.

"Tapi yang sering menjadi pemicu perbedaan ada di ketinggian hilal, itu menurut kriteria teman-teman lain di bawah 2 derajat itu sudah bisa, kalau kami di minimal dua derajat atau di atas dua derajat," dia menambahkan.

Baca: Daftar Lokasi Rukyatul Hilal untuk Melihat Awal Syawal 1439 Hijriah

Selain itu, Ustadz Syarif juga menjelaskan kendala yang dihadapi saat melakukan metode pengelihatan hilal.

"Saya klasifikasi ada dua kendala, pertama teknis dan kedua faktor alam. Teknis misalnya tempat kita kurang tinggi, terus juga alat kurang lengkap. Kalau alam itu yang di luar kemampuam kita, misalnya di saat-saat menentukan itu, kondisi kurang bersahabat, saat matahari terbenam itu starting point kita, ketika matahari terbenam itu cerah insyaAllah potensi terlihat, tapi kalau berawan, mendung, apalagi hujan itu sulit untuk terlihat," pungkasnya.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: chaerul umam
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
  Loading comments...

Berita Terkait :#Lebaran 2018

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas