Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Menelaah Sosok Cawapres Ideal untuk Mendampingi Prabowo

Prabowo harus berpasangan dengan figur yang bisa mendongkrak elektabilitasnya di Pilpres.

Menelaah Sosok Cawapres Ideal untuk Mendampingi Prabowo
TRIBUNNEWS/FITRI WULANDARI
Pakar komunikasi politik Emrus Sihombing di acara diskusi bertajuk 'Berebut Cawapres Jokowi: Peluang Koalisi Nasionalis-Santri' yang digelar di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, Minggu (11/2/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berdasarkan hasil survei LSI Denny JA, Mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo paling berpotensi untuk disandingkan dengan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019.

Hasil survei terhadap 1.200 responden, setidaknya, pasangan Prabowo-Gatot mendapat 35,6 persen suara pemilih.

Soal itu, Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing menilai duet tersebut akan menemui jalan terjal. 

"Itu akan mudah dilawan oleh siapa pun nanti pesaingnya. Akan muncul isu militer, bahkan bisa diisukan militerisasi. Jadi saya pikir pemasangan ini sangat tidak produktif untuk bertarung di 2019,” kata Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing, Rabu (11/7/2018).

Emrus menjelaskan, hasil survei LSI tidak bisa dijadikan tolok ukur mutlak, sebab hal itu adalah potret sesaat.

Selain itu, tingkat elektabilitas Prabowo-Gatot di angka 35 persen masih rawan untuk bisa dijadikan dasar pasangan itu maju di Pilpres mendatang.

"Rawan dalam pengertian belum aman. Secara statistik, baru itu aman bila sudah di kisaran 70 persen. Artinya andainya elektabilitas Prabowo-GN mencapai 70 persen dibandingkan dengan simulasi calon lain, baru kita katakan sebagai penantang yang kuat bagi Jokowi. Sedangkan Pak Jokowi yang kurang dari 50 persen, bagaimana yang 35 persen?” jelasnya.

Dari sisi partai pendukung, Emrus menambahkan, duet Prabowo-Gatot juga sulit tercapai.

Meski Prabowo sudah pasti bakal didukung penuh Partai Gerindra, Gatot bukan berasal dari kalangan partai politik.

Situasi ini secara otomatis akan memperlebar potensi konflik di kalangan partai koalisi Gerindra.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas