Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Politisi PAN Sebut Jika Prabowo Tidak Maju Capres, Komunikasi Parpol Lebih Mudah

Dia mengatakan partainya siap dengan segala skenario di Pilpres 2019 bahkan jika kader PAN tidak jadi capres atau cawapres

Politisi PAN Sebut Jika Prabowo Tidak Maju Capres, Komunikasi Parpol Lebih Mudah
WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) menghadiri aksi Hari Buruh Internasional di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (1/5/2018). Buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2019. WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto berujar jika Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto tidak maju sebagai capres di Pilpres 2019, akan memudahkan komunikasi partai-partai politik.

"Tentu kalau misal tiba-tiba Pak Prabowo dengan legawa sebagai negarawan sejati menjadi king maker, misal 'sudahlah saya engga maju, saya serahkan kepada Anies atau Gatot', ya mungkin itu lebih memudahkan komunikasi dengan partai-partai lain di luar Gerindra," ucap Yandri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Dia mengatakan partainya siap dengan segala skenario di Pilpres 2019 bahkan jika kader PAN tidak jadi capres atau cawapres, Yandri mengaku tidak keberatan.

Sebab, dari awal PAN juga mempertimbangkan tokoh non-partai seperti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Di sisi lain, PAN juga memiliki 4 tokoh jagoan internal partai, Ketua Umum Zulkifli Hasan, Amien Rais, Hatta Radjasa, dan Soetrisno Bachir.

"PAN tidak ngoyo dan ngotot karena koalisi ini bersama-sama. Di luar internal kami ada Anies Gatot. Buat kami sama saja peluangnya jadi capres atau cawapres," tutur Yandri.

Bagi Yandri, yang penting adalah membangun pondasi koalisi yang kokoh dan partai politik tidak perlu untuk memaksakan kehendak.

"Yang lebih jalan istilah saya itu kalau partai politik ini tidak mengedepankan ego masing-masing. Misal ya udahlah ketum engga perlu maju. Kita cari kader bangsa yang lain tapi kita bangun koalisi yang kuat. Saya pikir itu bisa membuat pola baru koalisi," katanya.

  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas