Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Ketua DPW PKS NTT: Drama Baru di Tubuh PKS, Ramai-ramai Mundur Sebagai Caleg

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nusa Tenggara Timur (NTT) Drs H Suhardjito Esha mengungkapkan, konflik di internal

Ketua DPW PKS NTT: Drama Baru di Tubuh PKS, Ramai-ramai Mundur Sebagai Caleg
ISTIMEWA
Ketua DPW PKS NTT, Suharjito, S.H, M.Si 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nusa Tenggara Timur (NTT) Drs H Suhardjito Esha mengungkapkan, konflik di internal partainya semakin meluas.

Jika selama ini publik hanya tahu pemecatan Fahri Hamzah dan penyingkiran Anis Matta beserta orang-orangnya, ia memastikan berkembang kepada pemecatan para Ketua DPW yang dianggap memiliki visi sama dengan Anis Matta.

"Drama baru ditubuh PKS kembali terjadi, pengunduran diri caleg PKS masiv terjadi ditingkat pusat maupun daerah. Termasuk dikalangan kader inti PKS" ia memastikan dalam rilisnya yang diterima tribunnews.com, Sabtu (14/7/2018).

Di internal DPW PKS NTT berkembang info bahwa Ketua DPW PKS NTT Suharjito tidak bersedia dicalegkan dari awal, diikuti Kabid Kaderisasi Junaidi Ana. Menyusul pengunduran diri Sekum DPW PKS NTT Syafrudin G. Tokan dan Kabid Polhukam Zainal A. Thayeb sebagai BCAD.

"Di tingkat Kabupaten, Kabid Humas DPD PKS Manggara Barat Sumardi tidak bersedia dicalegkan, Sekum DPD PKS Lembata Abdul Hamid, menyusul Ketum dan Sekum DPD Flores Timur Gafar Ismail dan M.Rivai Pujianto mundur dari pencalegan," ungkap Suharjito.

Sementara itu, lanjutnya sebagian kader lagi menginformasikan akan mundur setelah pendaftaran BCAD, karena sudah terlanjur menyerahkan berkas caleg.

Menurutnya, fenomena ini merupakan akibat konflik panjang internal PKS yang berakibat hilangnya soliditas. Akibat lanjutan adalah kekalahan diberbagai pilkada yg sebelumnya merupakan basis PKS.

Kekesalan kader memuncak, lanjutnya, karena menganggap DPP sekarang tidak mampu mengelola konflik internal dengan baik. Indikasi pemecatan dan penyingkiran tidak berhenti meskipun menjelang pilkada, pencalegan, dan pilpres.

"Puncak kekesalan kader adalah adanya surat pernyataan larangan menghadiri berbagai acara yang diselenggara oleh mereka yang dianggap pro Anis Matta. Serta surat pernyataan pengunduran diri bermeterai dari caleg jika terpilih tanpa tanggal, bulan dan tahun," Suharjito memastikan.

Ditegaskan protes kader terhadap aturan aneh tersebut dianggap angin lalu. Maka, ia meyakinkan, terjadilah arus balik perlawanan dengan ramai mundur dari BCAD. "Tidak menutup kemungkinan mereka juga akan keluar dari PKS jika dianggap tidak lagi bisa membawa aspirasi dan menjadi alat perjuangan," Suharjito mengingatkan.

Hingga berita ini diturunkan, tribun masih mengonfirmasi DPP PKS terkait hal ini. 

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Rachmat Hidayat
  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas