Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Ray Rangkuti: Ruang Politik Kita Terlalu Banyak Kampanye 'Nyirisme'

Dalam situasi di mana hampir semua tindakan dan ucapan para capres dimasalahkan, menurutnya ungkapan ini akan kembali menghangatkan suasana politik

Ray Rangkuti: Ruang Politik Kita Terlalu Banyak Kampanye 'Nyirisme'
Adiatmaputra Fajar
Ray Rangkuti 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA) menyayangkan ungkapan presiden dengan istilah politikus Genderuwo.

Dalam situasi di mana hampir semua tindakan dan ucapan para capres dimasalahkan, menurutnya ungkapan ini akan kembali menghangatkan suasana politik.

"Setelah sebelumnya ungkapan wajah Boyolali yang menghebohkan, dan bahkan masih terasa perdebatannya sampai sekarang, justru istilah politikus Genderuwo ini selain akan jadi Perbaungan baru, sekaligus menutup bising soal wajah Boyolali," kata Ray, Sabtu (10/11/2018).

"Akhirnya, publik kita hanya ribut soal ungkapan yang sebenarnya tidak perlu. Dan wajah kampanye kita hanya seperti bertarung mengungkapkan ungkapan yang saling menyindir, belum masuk ke soal-soal substantif.

Pengungkapan istilah seperti ini, tak menguntungkan kepada kedua belah pihak," lanjut Ray.
Aroma negatifnya ia menegaskan kembali yang justru besar. Khususnya kepada Jokowi, ia menyarankan sikap diamnya selama ini atas berbagai sindiran atau bahkan fitnah yang menghujamnya justru yang membuat simpati atasnya menguat.

Baca: Petinggi Partai Demokrat Ogah Komentari Politikus Genderuwo

Cara beliau menjawab seluruh sindiran, nyinyiran dan bahkan fitnah dengan fokus melaksanakan tugasnya, imbuh Ray, justru jauh lebih efektif membuat elektabilitasnya naik dari pada sibuk dengan urusan ungkapan yang sekalipun tepat, tapi istilah-istilah yang dipakai akan potensial jadi perdebatan.

"Pada masyarakat yang literasinya masih berkutat pada simbol, kulit dan permukaan, pesan dari simbol tersebut justru terlupakan. Oleh karena itu, tak lelah-lelahnya kita mendorong agar kedua pasangan capres dan timnya kembali ke cara berkampanye substantif," katanya.

Baca: Kubu Prabowo Tidak Tersinggung dengan Pernyataan Jokowi Soal Politik Genderuwo

Memperdebatkan segala sesuatu, Ray menegaskan yang berhubungan dengan hajat publik. Mengungkapkan tentang hal yang berhubungan dengan masa depan Indonesia, khususnya lima tahun ke depan.

"Ruang politik kita sudah terlalu banyak diisi oleh kampanye nyinyirisme. Kita perlu kembali ke kampanye substantif," Ray menegaskan.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Rachmat Hidayat
  Loading comments...

Berita Terkait :#Pilpres 2019

berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas