Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Tokuiku, Pendidikan Moral Sebagai Rahasia Disiplinnya Siswa-siswi di Jepang

Program ini berhasil meningkatkan kompetensi akademik dasar dan sikap belajar pada anak-anak Sekolah Dasar di Parepare, Sulawesi Selatan.

Tokuiku, Pendidikan Moral Sebagai Rahasia Disiplinnya Siswa-siswi di Jepang
Ria Anatasia/Tribunnews.com
Head of Sales Department Gakken Teppei Shioda (kanan), Senior Manager Gakken Miwa Kanai (kiri) Simulasi kelas After-School dari Gekken Educational bersama awak media di Ayana Midplaza, Jakarta, Kamis (13/9/2018) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kemajuan suatu bangsa tentu bermula dari didikan yang diberikan kepada anak-anaknya. Sekolah menjadi salah satu sarana untuk mendidik anak, baik secara akademis maupun moralis.

Gakken Educational Co. Ltd, perusahaan pendidikan asal Jepang, memperkenalkan sistem pendidikan moral bagi siswa-siswa sekolah di Indonesia yang bernama Tokuiku.

Program ini berhasil meningkatkan kompetensi akademik dasar dan sikap belajar pada anak-anak Sekolah Dasar di Parepare, Sulawesi Selatan.

"Kami menerapkan sistem ini di 80 sekolah di Parepare. Kita berikan pendidikan moral atau Tokuiku, hasilnya mereka lebih disiplin dan fokus melalui interaksi langsung dengan teman dan sensei (guru) di kelas," kata Teppei Shioda, Head of Sales Department Gakken di Ayana Midplaza, Jakarta, Kamis (13/9/2018).

"Ada pula metode khusus dalam mata pelajaran Matematika. Dilihat dari presentase jawaban benar, awalnya 31 persen dalam empat bulan meningkat menjadi 91 persen," katanya.

Melalui pendidikan moral tersebut, para anak diajarkan untuk mengantre sebelum masuk kelas, meletakkan sepatu di rak secara rapi, menata barang hingga membersihkan kelas.

Sebelum memulai kelas, mereka akan membacakan "Tujuh Janji Teman-Teman" berisikan komitmen mereka untuk disiplin dan menaati peraturan di kelas.

"Mereka diminta membaca soal dengan suara lantang sambil menunjuk kata di lembar soal satu-persatu. Hal ini menambah kemampuan mereka untuk memahami apa yang diminta soal," tutur Shioda.

"Ada peraturan lain, misalnya kalau ingin bertanya harus maju ke depan, membersihkan sisa-sisa penghapus di atas meja, setiap mengumpulkan worksheet mereka harus mengantre," ujarnya.

Menariknya, anak-anak memiliki semacam kertas laporan yang berisi stempel tentang sikap mereka di kelas. Bila sang anak menepati janji mereka dengan berkelakuan baik, ia akan mendapatkan satu stempel.

Tak ada hukuman bagi anak yang tak dapat stempel, sementara bagi yang mendapatkannya akan diapresiasi.

"Stempel itu diberikan kepada mereka berdasarkan kepatuhan pada janji, bukan nilainya di kelas. Secara tak langsung, kami memang memprioritaskan pendidikan moral kepada mereka," katanya.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
berita POPULER
© 2018 TRIBUNnews.com All Right Reserved
Atas